Monokrom

Monokrom

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 19, 2020
"Dan jika kamu ingin tahu bagaimana kebersamaan kalah akan suatu kenyataan, mungkin kamu bisa bertanya pada sosok teduh miliknya. Sosok yang sekarang ini juga baru saja menelisik setiap bagian buku berisi polaroid yang menempel pada setiap helai dengan sorot pandang tenang bak purnama tanpa nada yang membawanya masuk kembali pada masa ketika kebersamaan antara dirinya dan orang-orang kebanggaannya dengan lantang berikrar kebersamaan tidak akan pernah hilang walau kalah dengan kenyataan." -a- Ketika ia memiliki satu kesempatan untuk kembali mengunjungi Yogyakarta, Askara Raditya seperti kembali menemukan cahaya yang sudah lama ia rindukan. Perihal sepasang hari dan peristiwa, mata dan kata, emosi dan frasa, damai dan bahagia serta cita dan cinta. Semua. Semuanya. Dan perihal purnama yang kehilangan nama. ***
All Rights Reserved
#16
hitamputih
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BUNGA KEMBALI
  • ANGKASARAYA
  • Embun di Ujung Semanggi
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • JAM 3 SORE
  • Dirgantara
  • Promise
  • Yogyakarta dan Kenangan
  • Aksareya
  • Rain And Tears [Proses Revisi]

Mereka adalah saudara, mereka mencintai perempuan yang sama Malam itu, hujan turun dengan derasnya, membasahi jalanan yang sepi. Di balik jendela kamar yang temaram, seorang gadis duduk bersandar, matanya menatap kosong ke arah langit kelabu. Napasnya berat, pikirannya penuh. Hujan seakan mengerti perasaannya-dingin, gelisah, dan penuh ketidakpastian. Jauh di sudut kota, seorang pria berdiri di depan pintu apartemen, ragu untuk mengetuk. Tangannya mengepal, menggenggam sesuatu yang tak kasatmata-sebuah harapan, atau mungkin sekadar kenangan yang enggan ia lepaskan. Dulu, segalanya terasa sederhana. Kini, hanya ada jarak, kebisuan, dan perasaan yang tak lagi bisa mereka definisikan. Di tempat lain, seorang lelaki menatap bayangannya sendiri di cermin. Mata yang dulu penuh gairah kini menyimpan kehampaan. Cinta yang ia genggam dulu, kini terasa seperti pasir yang perlahan menghilang di antara jemarinya. Mereka bertiga, terikat oleh kisah yang tak pernah sederhana. Cinta, kehilangan, pengorbanan-semua bercampur menjadi satu dalam kisah ini. Dan malam ini, takdir mulai menuliskan babak terakhirnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines