ALTAIR
  • WpView
    Reads 837
  • WpVote
    Votes 203
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 16, 2020
Tidak lebih dari sepuluh detik saja. Seorang Darrel Kenzo Aristama mampu dibuat penasaran dengan tatapan tajam dan menantang dari seorang gadis. Namun menurutnya, tatapan itu menyiratkan ketakutan dan kesepian yang seakan mengatakan, "Jangan pergi, kumohon." Menurut Darrel ia hanya sampai pada titik penasaran. Hingga tatapan itu berakhir, berakhir juga rasa itu. Tidak lebih. Ia tahu dengan pasti apa yang akan terjadi jika rasa penasarannya diteruskan. Hanya ada dua kemungkinan, kecewa karena terlalu memaksakan atau berakhir luka karena membiarkan. ---------------------------- "Siap dengan kehadiranku?" "Mulai saat ini kamu harus terbiasa dengan hadirnya aku di sekitarmu." Gadis itu berlalu dengan langkah indah dan lengkung manis di bibirnya setelah mengatakan isi hatinya kepada dia yang dibuat penasaran.
All Rights Reserved
#89
angkasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • CLAUSTRUM || End✓
  • ALZEL (TERBIT)
  • Inside You
  • Arsyilazka
  • ANANTA [COMPLETED]
  • Miracle On Three Years
  • SLOWLY

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines