The Real Friendship

The Real Friendship

  • WpView
    مقروء 168
  • WpVote
    صوت 31
  • WpPart
    فصول 10
WpMetadataReadمستمرّة
WpMetadataNoticeآخر تحديث: خميس, سبتـ ١٠, ٢٠٢٠
"jadi gimana prinsip kalian dalam berteman? cari yang gaul? Yang ngehits? Yang kaya? Yang cantik? Yang populer? Atau yang pinter? Yang lucu? Yang kaku? Yang kalem? Yang gimana? Disini aku bakal ngasih tau ke kalian apa arti teman buat hidup kita, memilih dalam berteman itu dalam artian memilih yang baik. Ini kisah nyata aku dan teman ku yang gak saling membedakan satu sama lain yang saling menerima keadaan satu sama lain, yang menerima kekurangan satu sama lain, bersyukur lah kalian jika punya temen yang modelan begini. Soalnya sekarang banyak temen yang sekedar numpang nama, bahkan yang berteman hanya niat untuk memanfaatkan. Itu tydak baik gaes. Tydak boleh lah kalian seperti itu. Nah selain mereka baik mereka juga humor nya receh jadi siapa sii ya ga seneng kalo punya temen suka bikin ketawa bikin terhibur, bikin beban kita berkurang karna kita dibuat lupa karna canda tawa nya. So? Pasti bahagia dan seru kan, Mau tau kisah nya? Yuk baca!
جميع الحقوق محفوظة
#125
kebersamaan
WpChevronRight
انضم إلى أكبر مجتمع لرواية القصص في العالماحصل على توصيات قصص مخصّصة، احفظ قصصك المفضلة في مكتبتك، وقم بالتعليق والتصويت لتنمية مجتمعك.
رسم توضيحيّ

قد تعجبك أيضاً

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Another Pain (END) ✔
  • Everything Between Us (ON GOING)
  • Nayara [ TERBIT ]
  • Without Female Friends✅
  • Persahabatan Kita
  • Ms. Moody & Mr. Arogan[STILL ON PROGRESS]
  • Because I'm Stupid (End)
  • LARA
  • Raga Kiran (on Going)

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

تفاصيل إضافية
WpActionLinkإرشادات المحتوى