Story cover for Catatan Teduh by rizkaerindiaa
Catatan Teduh
  • WpView
    Reads 61
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 61
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 4
Ongoing, First published Jul 24, 2020
Menanti petrichor saat hujan datang, mengingat kenangan saat rindu datang.

Menyampaikan rasa lewat tulisan.

Kumpulan kata yang berusaha dirangkai menjadi sebuah makna.
All Rights Reserved
Sign up to add Catatan Teduh to your library and receive updates
or
#225makna
Content Guidelines
You may also like
Pertemanan di balik Kutukan [On Going] by AYA_MNK
29 parts Ongoing
🥀Cerita ini 100% karangan dari saya sendiri jadi mohon di hargain, jika memang tidak suka maka tidak usah di baca dan jika suka jangan lupa beri vote dan komen yaksss!!! ⚠️ INGAT DI LARANG PLAGIAT, COPY PASTE, MENIRU, MENJIPLAK, ATAU SEJENIS NYA. DON'T! Saya mungkin tidak tahu tapi allah tahu. Rintik hujan perlahan jatuh dari langit kelabu, tetesannya menimpa tanah kering dan retak, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang segera lenyap bersama debu. Namun tak lama, langit seolah tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuh seorang gadis yang berdiri diam di tengah kehancuran. Luka menganga di hampir seluruh kulitnya, darah mengalir perlahan, menyatu dengan air hujan yang mengalir di tanah. Namun ia tetap tak bergerak. Pandangannya kosong, tatapan hampa tanpa harapan, seolah jiwanya telah pergi jauh meninggalkan raganya yang lelah. Di sekelilingnya, dunia yang dulu penuh kehidupan kini tinggal puing dan arang. Tanah yang dulu dihiasi hamparan rerumputan hijau telah terbakar hingga hitam dan tandus. Pohon-pohon yang dulunya menjulang kokoh kini rebah, patah, dan hangus, tak menyisakan satupun daun yang selamat. Segala yang dulu indah, kini lenyap tanpa jejak, tersapu oleh sesuatu yang lebih kejam dari waktu, kehancuran yang tak memberi ampun. "Aku menghancurkan semuanya ... Aku seorang monster!" bisiknya lirih, dan setetes air mata mulai mengalir keluar dari ujung matanya, tak bisa dibedakan apakah itu air hujan atau air penyesalan. "Aku menyakiti orang-orang, aku membunuh orang tak bersalah ... Aku benar-benar seorang monster!" Air matanya menetes, bercampur dengan darah dan hujan. Dan dari bibir pucatnya, hanya satu kalimat yang terus berulang kali dia ucapkan, seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. "Maaf ... maafkan aku ... maaf ...." Dibuat : Rabu/13/April/2022 Selesai : ??? Written by :AYA_MNK ©hak cipta dilindungi Allah SWT
You may also like
Slide 1 of 10
Biru Milikku ✔ cover
Pertemanan di balik Kutukan [On Going] cover
Puisi 'tuk kau, Yang merindu cover
alunan diksi (sudah Terbit)  cover
- Tahun Ke 18 - [Tamat] cover
harapan yang pupus cover
[2] Asa dalam Rasa | ✔ cover
Balada Syair Sunyi cover
KLASIK √ cover
Segala Tentangmu ❝ cover

Biru Milikku ✔

80 parts Complete

JANGAN LUPA FOLLOW YA 😊😍 Mari kita dukung para penulis yang sudah berusaha keras mempublikasikan dan menyelesaikan setiap tulisannya dengan memberikan apresiasi pada karya serta kehadirannya 😊 ***** [COMPLETED] - KUMPULAN PUISI - Menyelami lagi, Kisah yang telah terhenti, Walau sedari awal memang belum pernah dimulai. Yang nggak mau patah hati, Apalagi baper sendiri, Yuk ngumpul di sini. Start : 26 November 2021 End : 21 Desember 2021