Remembering His Fragrance

Remembering His Fragrance

  • WpView
    Reads 193
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 29, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Tentang kerinduan, gairah, cinta, dan dendam. ______ "Apa kau menyakitinya?" tanya Ben. "Apa kau begitu khawatir, Ben?" "Apa kau menyakitinya, Ainsley? Jawab aku!" Ainsley berhenti berjalan lalu berbalik menatap Ben dalam. Jarak mereka sangat dekat. Ben yakin pasti wanita itu bisa menghirup aroma tubuhnya. Ben ingat, Ainsley selalu bilang bahwa ia sangat menyukai berada di dekatnya. Wangi teh yang lembut dari Bvlgari Pour Homme bercampur dengan aroma khas tubuhnya menjadi perpaduan yang natural, hangat, terkesan protektif, juga maskulin adalah hal yang paling ia suka. 'Aku suka sekali memelukmu. Kau harum. Aku akan selalu memelukmu setiap kali ada kesempatan! Ainsley selalu mengatakan itu, dulu. Ben bisa lihat wanita di hadapannya kini menutup mata seolah sedang menahan diri untuk memeluknya. Sebenarnya Ben tak tega, tapi mau bagaimana lagi? Ben tak bisa memeluk wanita itu untuk menghapus rasa sedihnya. Ini setimpal untuknya. "Apa kau pernah mendapatiku menyakiti seekor anjing, Monsieur Benjamin Evrard?" Kini mata Ainsley berkaca-kaca menatap Ben. "Jadi kau sangat khawatir padanya?" Suaranya melemah. Ben terhenyak dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut wanita itu. Anjing? What the heck! Merasa tak mendapat jawaban, Ainsley mengangguk perlahan lalu berbalik dan berjalan kembali sedikit lebih cepat dari sebelumnya dan meninggalkan pria yang dulu sempat tinggal bersamanya itu. Sudah hampir dua bulan mereka tidak tinggal bersama lagi. Akhir musim panas lalu adalah malam terakhir mereka tidur bersama. Ben mengusap kasar wajahnya, dia tak mengejar wanita itu lagi. Dadanya begitu panas. "Brengsek!" Dia berbalik menuju hotel kembali. ____ I hope you enjoy this story 💕 #BenitoPublisher #LombaRomanceBenito
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lukisan Perang dan Salju
  • ARDOLPH
  • Sleeping With My Boss
  • Evando&Seraphine [END]
  • Hai, Arnold! (END)
  • Misunderstand
  • Dalam Dekapan Sang Malaikat
  • All or Nothing
  • My Love
  • SHIT HAPPENS [RE-PUBLISH]

Di dunia yang runtuh oleh perang, di mana kehormatan dibeli dengan darah dan cinta menjadi barang asing di medan tempur, berdiri sosok Jenderal Tertinggi Kerajaan Vellatora, dikenal sebagai *Raja Besi dari Utara*. Lelaki yang membawa kehancuran ke setiap tempat yang disentuh sepatunya. Pemimpin tanpa hati, dewa perang yang tak pernah mengenal belas kasihan. Namun segalanya berubah saat ia menaklukkan sebuah desa kecil yang terkutuk di wilayah selatan-dan **Evelin**, gadis miskin yang hidup dalam pengasingan, dicaci dan dihina, namun tetap bertahan dengan kelembutan yang menyayat. Evelin bukan siapa-siapa. Evelin hamil anak sang jenderal, dan rahasia itu bisa mengguncang kerajaan. Ia hidup dalam dilema: mencintai lelaki yang menghancurkan desanya... atau melupakan rasa yang tumbuh dari luka. ....."Aku akan membakar dunia jika kau menginginkannya," bisik Leonardo suatu malam, dengan suara rendah, nyaris seperti doa. "Katakan saja, Evelin. Satu kata darimu, dan semua ini akan hancur." Tapi Evelin tak pernah berkata apa-apa. Ia hanya menatap jendela, pada salju yang turun diam-diam di luar sana-seolah dunia masih bisa bersikap lembut meski penuh luka. Leonardo mencintainya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh monster yang terlambat menyadari bahwa ia masih memiliki hati. Ia melarang Evelin melihat keluar, tapi ia sendiri membawakan bunga dari pegunungan utara, hanya karena Evelin pernah bilang ia menyukai wangi alam. Ia tidak pernah berkata "Aku mencintaimu" dengan kata-kata biasa, tapi ia mencium kening Evelin seperti sedang menyentuh relik suci, dan mencengkeram tangan gadis itu saat malam datang seolah takut dunia akan mencurinya dalam tidur. Namun Evelin tahu... segala yang indah ini dibangun dari puing-puing orang lain. Dari darah. Dari tangis. Dari nyawa yang tak pernah sempat minta ampun. Ia tahu, bahwa kehangatan ini datang dari lelaki yang pernah menghancurkan desanya, membakar rumahnya. Dan ia juga tahu... ia tak bisa membenci Leonardo.

More details
WpActionLinkContent Guidelines