21 Days for Rania's [Bet]

21 Days for Rania's [Bet]

  • WpView
    Reads 245
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 5, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Berpusat pada seorang Rania Devanya, gadis dengan julukan "Queen of Bet" yang memang pantas menyandang gelar itu sejak awal keberadaannya. Jika kalian mengira dia hanya salah seorang bad girl yang haus akan perhatian, kalian salah besar! Untuk apa mencari perhatian, jika dia bisa membuat seluruh pasang mata tertuju padanya dalam sekejap? Juga, berporos pada seorang Fachry Rajendra, siswa pemegang peringkat satu umum setiap tahun sekaligus ketua ekskul dan kapten team futsal sekolah yang selalu dianggap introvert. Jika kalian ikut menganggap dia anak yang introvert, pikir lagi deh! Mana ada kapten team futsal orang yang cupu dan penyendiri?! "Let's join and begin the show, guys!"
All Rights Reserved
#271
futsal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Game Over: Bull's Eye
  • I'm Queen Black Rose  [ On Going ]
  • Say Yes, B*tch! ✓
  • Eramnesia
  • SIN [Completed]
  • ANTAGONIST COUPLE [ TERBIT ]
  • ACCIDENTAL LOVE [END]
  • BADAI CAMILLA [COMPLETED]
  • REANDRA [END]
  • FLASHBACK || Antara Nefa Dan Rendi [SELESAI]

[2] TERBIT 📖 - Game Over adalah nama lain dari taruhan. Game Over sedang berlangsung, tetapi tidak ada yang tahu tentang Game Over bayangan. Riri dihadapkan oleh sesuatu yang tidak biasa, yang tidak disadarinya. Tentang permainan aneh bernama Game Over yang ada di SMA Tabula Rasa yang rumornya dijalankan oleh sebuah geng rahasia. Tiba-tiba saja, bukan hanya satu cowok yang mendekat, tetapi lima. Mereka mendekati Riri dengan tiba-tiba, aneh, dan ... unik. Namun, di antara mereka perhatian Riri hanya tertuju pada satu. * "Pacaran, yuk?" "Lo ... barusan itu apa?" Riri menunduk gelisah memainkan jemarinya. "Gue nembak lo." Balasan cowok itu semakin membuat Riri sulit mengeluarkan suara dan terus gelisah menyembunyikan wajahnya yang merona. "Kalau lo setuju, kita pacaran." "Kalau enggak?" "Nggak pacaran." Riri memberanikan diri mendongak. Senyum itu lagi beserta tatapan yang akan selalu terbayang di ingatan Riri. "Ma-mau, sih," balas Riri gugup. "Gue juga mau, sih," balas cowok itu sambil menunduk dan menepuk puncak kepala Riri berkali-kali. [] copyright©2020, by sirhayani

More details
WpActionLinkContent Guidelines