For The Last

For The Last

  • WpView
    Reads 216
  • WpVote
    Votes 128
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 3, 2021
Slow update ••••••••••••••• "Adakah hal yang begitu kamu nantikan disetiap waktumu?" "Ada," "Apa itu?" "Bahagia." ••••••••••••••• Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis dan seorang pria yang begitu mengharapkan kebahagiaan. Dunia begitu sempit membuat jalan mereka seperti labirin. Tapi tak pernah terbersit dihati dan pikiran mereka untuk menyerah. Berusaha dan berjuang demi bahagia, itu yang selalu dilakukan mereka. Tapi mengapa dunia seakan tak mengizinkan? Apa yang harus mereka lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan yang mereka cari? Entahlah. Sangat rumit memang. Tapi, "Itulah misi ku dihadirkan di dunia. Mencari kebahagiaan." Begitulah yang selalu mereka katakan.
All Rights Reserved
#91
psikopath
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ANYELIR (END)
  • Atela's Journal [FINISHED]
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • False Hopes
  • My Beloved Revenge [END]
  • RAPUH!
  • Kisah Akala
  • Meneroka Jiwa 2
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • REVANO UNTUK REVA

"Psikopat" "Pria itu seorang psikopat" Zia terkejut mendengar teriakan anak kecil. Apa maksudnya psikopat, siapa yang psikopat? "Jangan mendekat, ruangan itu milik psikopat" "Pergi...!" Dia menyuruh Zia pergi dari ruangan ini? Orang yang berada didalam kamar berbahaya atau tidak? "Ada psikopat!" "Pembunuh, pria itu pembunuh" "Psikopat pembunuh...." "Ibuku dibunuh dia..." "Psikopat pembunuh ibuku!!!" Seorang anak kecil berteriak-teriak menyuruh Zia pergi dari hadapan kamar yang terkunci. Zia yang melihatnya hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Adinda Pricilla, ayo pergi dari sini." "Suster Dewi," cicit Zia. Anak kecil itu pergi sambil terus menggelengkan kepalanya. Peringatan yang anak kecil itu berikan bermaksud menjauhkan Zia dari masalah. Akan tetapi Zia justru menganggap Pricilla bicara omong kosong. Karena dia hanyalah anak kecil yang terganggu kejiwaannya. Apakah zia tetap masuk kedalam kamar pasien yang ada di hadapannya. Atau justru mengerti peringatan dari Pricilla.

More details
WpActionLinkContent Guidelines