Penantian
  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 25, 2020
Penantian yang aku kira akan berakhir bahagia indah dan mengesankan. Tetapi kenyataannya semua tak seperti yang aku harapkan. Penantian yang selama ini aku nantikan berakhir begitu menyakitkan , sedih marah dan kecewa semua bercampur menjadi satu. Dan sejak saat itu semuanya berubah180 drajat, aku bukan aku yang dulu ceria ramah lembut dan penyayang lagi,tapi sekarang aku gadis yang dingin tak tersentuh oleh siapapun terkecuali dengan Ayah dan Bunda. Namun setalah sekian lama berlalu akhirnya semua luka itu terobati setelah hadirnya laki-laki yang tak sengaja menyelamatkanku dari sebuah kecelakaan yang merenggutku.
All Rights Reserved
#248
tenfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • Game of Hearts [REVISI]
  • As Time Allows
  • the dark side that i embrace
  • 00.00
  • Semua Tentang Luka [ END ]
  • AKU TAK PERCAYA CINTA, AYAH! (TAMAT)
  • Is LOVE
  • Devon [END]
  • Vericha Aflyn ✔️

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines