Putri Untuk Pangeran

Putri Untuk Pangeran

  • WpView
    Reads 91
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 31, 2020
Ini kisahnya, kisah gadis cupu yang mengharapkan cinta seorang pangeran. Kisah tentang perjuangan yang tak pernah terlihat. Kisah duka dan suka yang tak terhingga. "Pergi dan jangan kembali," Setelah mengucapkan kalimat itu dia pergi begitu saja tanpa memperdulikan lawan bicaranya yang sudah mengenaskan. Dahi dan sudut bibir berdarah, pipi putihnya kini terlihat memerah dengan cap tangan yang masih terlihat jelas, rambut panjang yang terlihat berantakan, serta tubuh yang menggigil karena kedingingan. Walaupun begitu dirinya masih bisa tersenyum. Tidak seperti senyum kebahagiaan namun senyum penuh getir dan kecewa. Sorot matanya sangat sendu dan lemah. Air mata membanjiri pipi yang memerah. "Mungkin sampai disini perjuanganku. Aku takkan pernah menyesal telah mencintaimu Pangeran Rafantino," Tiba-tiba tubuhnya ambruk di lantai rooftop dan kesadarannya mulai menghilang dan menghilang.
All Rights Reserved
#67
tangisan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dear of Natasya
  • PACARNYA BOO (Sudah Terbit)
  • ASYHILA(COMPLETED)
  • Ali Arkhan
  • Wounds  [On Going]
  • Naura & Lukanya
  • 𝐁𝐫𝐨𝐤𝐞𝐧 𝐇𝐨𝐦𝐞? {𝐄𝐍𝐃}
  • Possesive Playboy
  • STORY KEISHA (TAMAT)

"Aku tersenyum bukan karena bahagia, tapi karena aku tak ingin kalian melihat aku runtuh." - Natasya Kirana Maharani Natasya Kirana Maharani, seorang gadis 14 tahun yang tampak ceria di luar, menyimpan lautan luka di dalam dirinya. Ia hidup di antara ketiadaan kasih sayang keluarga, dikhianati oleh satu-satunya cinta yang ia percayai, dan terjebak dalam gelapnya lorong kesehatan mental yang terus menghantuinya. Meski dunia seperti runtuh, Natasya masih bisa tersenyum. Ia mendirikan komunitas kecil di sekolah bernama Langit yang Menangis Diam-Diam, tempat di mana anak-anak lain yang juga terluka bisa menuliskan isi hati mereka tanpa takut dihakimi. Komunitas itu menjadi suara bagi mereka yang sunyi, menjadi bahu bagi mereka yang diam-diam ingin menyerah. Namun, tidak semua orang menyukai kejujuran. Komunitas itu mendapat serangan, hujatan, bahkan dihancurkan. Sahabat menjauh, pacar memilih diam, dan luka-luka lama kembali terbuka. Natasya terus bertahan. Ia terus menulis. Terus meyakinkan orang lain bahwa mereka layak hidup, meski hatinya sendiri sudah lama remuk. Hingga pada suatu malam, ketika tak ada lagi pelukan yang cukup hangat, ketika suara-suara di kepalanya terlalu bising, dan ketika senyumnya tak lagi mampu menahan air mata... Natasya memutuskan untuk meninggalkan dunia yang tak pernah benar-benar menerima keberadaannya. Ia meninggalkan surat terakhir di ruang komunitas yang dulu ia bangun: "Aku lelah menjadi kuat. Tapi aku ingin kalian tahu: kalian layak hidup, bahkan saat aku memilih berhenti." ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines