DeVasya : Turn Back Time

DeVasya : Turn Back Time

  • WpView
    LECTURES 274
  • WpVote
    Votes 88
  • WpPart
    Chapitres 11
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., oct. 15, 2020
"kau ingat, itu adalah pertemuan pertama kita. Kau dulu terlihat seperti boneka, lucu dan menggemaskan disaat yang bersamaan" kata Devano sambil menatap foto Revasya. Tidak bisa dipungkiri air mata Devano kembali turun dengan derasnya. Bisa dikatakan Devano itu lemah. Hei semua orang juga akan menjadi lemah jika di tinggal oleh orang terkasihnya bukan? Apalagi yang dialami Devano bukan hanya di tinggal satu minggu dua minggu bukan juga satu bulan dua bulan bukan juga satu tahun dua tahun. Tapi selamanya. Ya Devano di tinggal Revasya untuk selamanya. Tapi ini bukan akhir cerita Devano dan Revasya. _______ ALUR MUNDUR BUKAN ALUR MAJU
Tous Droits Réservés
#231
together
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • DANADYAKSA
  • Elang L Cavanix ( END )
  • Respirator [Selesai]
  • The Gap Between Us
  • Devano Arsena Satio [ On Going ]
  • CINTA
  • Derana Amara
  • Prince Untuk Alea
  • Behind Our Eyes
  • 244 Days to Hurt You

Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu