Kembali ke Awal

Kembali ke Awal

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Aug 2, 2020
Kinan menghentikan langkahnya, suara itu tidak asing baginya. Kinan membalikan badannya, nampak sosok lelaki yang berdiri dibawah sinar lampu jalanan yang tidak asing baginya. Wajah send tanpa ekspresi. Wajah yang selama ini kinan coba untuk lupakan. Ia mengenakan hoodie kesukaanya, sepatu convers yang sudah lusuh dan kacamata yang tidak pernah berubah sejak terkahir ia bertemu. Mereka sama-sama mematung, hanya ada suara kendaraan bermotor saling berderu. dari sekian banyak tempat di muka bumi kenapa ia memilih tempat ini? Tuhan rencana apa yang sedang Kau rencanakan padaku? bati kinan. "Andra?" hanya itu yang dapat terucap dari mulut kinan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kita yang tak bisa bersama
  • Di Kota Tempat Kamu Berada
  • HELLO WIFE
  • Sebuah Usaha Maya (TAMAT)
  • Memorable Night #N1 ( LENGKAP )
  • My Childish Wife [TAMAT]
  • Takeaway
  • Kia & Kinan
  • Hujan dalam Pandanganku

Kita yang Tak Bisa Bersama Hujan turun rintik-rintik, menambah kelam suasana malam itu. Bau tanah basah yang biasanya membawa kenyamanan, kini hanya terasa menyesakkan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma hujan yang mengingatkan pada momen-momen indah yang kini hanya tinggal kenangan. Di sebuah taman kota, di bawah lampu temaram, mereka duduk berdua. Malam itu, tak ada lagi tawa yang biasa menggema di antara mereka. Tak ada obrolan ringan yang selalu menyatukan hati mereka. Hanya ada kesunyian yang menggantung, berat, seperti awan gelap yang tak kunjung pergi. "Ada yang ingin aku katakan," suara perempuan itu pecah, hampir tenggelam dalam gemuruh hujan yang semakin deras. Laki-laki itu menoleh. Senyum kecil terukir di wajahnya, namun tak lebih dari sekadar kebiasaan. Ia mengira ini hanya perbincangan biasa, seperti dua tahun terakhir yang mereka habiskan bersama. Dua tahun yang dipenuhi kebahagiaan sederhana-tertawa bersama, saling berbagi mimpi, menciptakan dunia kecil di mana mereka merasa aman dari kenyataan. Namun, malam ini, perempuan itu tidak tersenyum. Tatapannya kosong, bibirnya bergetar, dan tangannya menggenggam ujung rok dengan erat, seolah menahan sesuatu yang sangat berat di dadanya. "Aku akan dilamar besok..." ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam hujan. Dunia laki-laki itu seakan berhenti. Detak jantungnya terasa menghilang, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Laki-laki itu menatapnya lama, mencoba mengukir setiap detail wajahnya di ingatan, perempuan yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, perempuan yang selalu membuatnya merasa tenang, yang selalu membuatnya merasa rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines