Affogato[END]

Affogato[END]

  • WpView
    GELESEN 198
  • WpVote
    Stimmen 80
  • WpPart
    Teile 7
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Aug. 12, 2020
WpInfo
Belletristik
Romantik
"Mempermainkanmu menarik sekali Syakila." Aku senang sekali bisa mempermainkannya dan balas mengerjainya karena kekesalanku soal surat cinta waktu itu. Hingga membuatku menciumnya demi sebuah stempel. Awalnya aku hanya ingin mempermainkannya, tapi sejak bertemu dengannya, melihat senyumannya, berusaha mengenal dirinya, aku semakin berubah jadi tidak seperti diriku yang biasanya. Gadis itu 'Syakila Qirani'. Haii ini sequel dari Shivviness atau lebih tepatnya cerita dari sudut pandang si Shaquille Melviano. Disarankan baca terlebih dulu cerita Shivviness agar lebih memahami alur ceritanya.. Terima kasih.
Alle Rechte vorbehalten
#1
affogato
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Shivviness[END]
  • SIRNA
  • Semua Tentang Kita
  • BarraKilla
  • For You, Only You Always
  • Dawn's Notes : It All Starts at Dawn
  • Cold Boyfriend [Ending]
  • D O M I N A N || RUPHA
  • AlfaNada

Suatu ketika aku bermimpi. Berlari tanpa arah di tengah jalan berkabut. Dan batu kecil pun bisa membuatku jatuh tersandung. Dengan rasa sakit, tak mampu berdiri sendiri. Aku menengadahkan kepala dan melihat sosok samar orang yang kusukai. Dia hanya terdiam seraya perlahan mengulurkan tangannya menanti aku tuk meraihnya. Begitulah... tangan itu memang harus kuraih sendiri. Aku harus berusaha menggapainya. "Akan kuraih..." sesaat aku berpikir seperti itu, seraya kuulurkan tanganku padanya. Kau tahu apa yang terjadi padaku kemudian?... Tanpa kusadari ada sosok lain yang sudah lebih dahulu mendekat dan membantuku kembali berdiri. Tangannya tak hanya terulur tetapi juga dengan erat menggenggamku. "Tenanglah." bisiknya, "Aku akan selalu ada untukmu." Kabut perlahan menghilang, memperlihatkan dengan jelas sosok didekatku itu. Aku tak terkejut. Aku sudah tahu, ternyata memang dia. Selalu dia... Karena bahagia sesederhana itu..

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien