Historio

Historio

  • WpView
    Membaca 32
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Agt 3, 2020
"Hai, saya Kora... dan ini budak saya-" "Tolong duburnya dikondisikan ya itu licin banget kalo ngomong," Manusia fanatik matematika disana seharusnya tidak masuk ke jurusan Ilmu Sejarah sepertinya, ngotot Nasa. Dimana harga dirinya sebagai anak IPS yang selalu menjunjung tinggi nilai estetika dan kebajikan Ilmu Humaniora pun anjlok bagai jumlah orang Yahudi setelah Hitler berkuasa. Nasa pun masih menderita lagi kalau ternyata jurusan yang dia pilih melebihi dari kata 'sempurna', sampai-sampai setiap hari dia marathon Anime non stop lalu lanjut kuliah walau wajah bagai mummy Amenhotep. 🏺 Halow para readers. Perkenalkan cerita berbumbu Slice of Life dariku~ Baca ini harus enjoy ya! Ora enjoy ati ora endol! Sayangkowe~
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#613
history
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Jomblo di eskul Pramuka
  • Thats my Love
  • [Mute?✓]
  • ANNISA {ON GOING}
  • SINDROM KANDAS MENAHUN [Akan Terbit]
  • Tobatnya 'Seorang' Buaya ✔
  • Bearly Attracted
  • Ayesha Transmigration
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI

"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku. "Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya" "Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku "I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--" "Mana jawabanmu?" "Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang. "Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya. "Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua. Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun. "Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan