We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Tuan Air Mata

Tuan Air Mata

  • WpView
    Reads 79
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 10, 2020
WpInfo
Fiction
Fantasy
"Jangan menangis terus, nanti didatangi Tuan Air Mata!" Begitu ancaman para orang tua ke anak-anak mereka. Kisahnya menyebar luas di seisi keratuan, tapi sedikit yang tahu bahwa sang satria menangis itu benar-benar ada. Mungkin suatu hari nanti akan ada yang bisa menghentikan air matanya. Arca perak Manjusri Sikhadara, Ngemplak Semongan Semarang, abad ke-10 Masehi. Koleksi Museum Nasional Indonesia: 5899/A.1105
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • jīvana-līlā
  • Reinkarnasi Istri CEO
  • Midwest Princess
  • Second Life The Geeky Boy
  • [BL] Sudden Omega
  • Song of Abyss
  • Being a Good Papa [ End ]

jīvana-līlā berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti permainan kehidupan. Bagi sebagian orang, hidup merupakan anugerah tuhan. Tapi bagi sebagian lainnya hidup merupakan siksa. *** Seorang anak kecil berlari dengan tergesa-gesa menghindari orang-orang berbaju hitam yang mengejar di belakangnya. Anak itu berlari tanpa memperhatikan jalan yang dilaluinya. Ia berlari sekuat tenaga, dan berkali-kali tubuh mungilnya terjatuh ke tanah. Meski kakinya lecet dan bercucuran darah, anak itu terus mengayunkan kakinya untuk berlari. Bajunya yang lucu nampak kotor akibat tanah yang menempel dan tatanan rambut yang sudah tak berbentuk. "KEJAR TERUS!" teriakan mengerikan menggema di balik sunyinya suasana hutan. *** Dia adalah Ara-Harana Pramidita, gadis mungil dengan rambut pendek dan poni khas yang selalu menempel di dahinya. Orang-orang sering menyamakannya dengan kartun Dora the Explorer yang slogannya selalu "Katakan peta, katakan peta" itu. Meski usianya baru menginjak dewasa, hidup telah memperkenalkannya pada pahit getir lebih awal daripada kebanyakan orang. *** "Mau lari kemana lagi gadis kecil?" tanyanya dengan suara rendah yang menyeramkan. "Cukup bermain-mainnya, sekarang waktunya kau kembali ke habitatmu," lanjutnya dengan penuh penekanan kata. Note : Update seminggu sekali di hari minggu (kalau gak sibuk nugas)

More details
WpActionLinkContent Guidelines