Izinkan aku bahagia, Tuhan.
________
Mengapa, Tuhan seolah tak mengizinkanku untuk merasakan kebahagiaan? Mengapa, Dia menakdirkan skenario hidup yang begitu rumit, bagi dunia kecilku?
Tak bisakah, Tuhan membiarkanku bahagia, lebih lama lagi? Aku hanya ingin hidup bahagia, bersama orang-orang yang aku sayangi. Namun, mengapa aku tak bisa? Apakah, karena Tuhan yang memang kejam pada diriku, ataukah, karena aku yang sudah terlalu banyak terluka, hingga lupa caranya bahagia?
____________
"Aku lelah, izinkan aku menutup mataku, ya?"
___________
Cerita yang kubuat, dikala gabut melanda.
Untuk yang punya riwayat emosi yang berkepanjangan, diharapkan jangan coba-coba mendekat!
Repost update rutin setiap Rabu, Jumat dan Minggu di jam 8 malam :"-)
::::
Kita adalah kisah happy ending dengan epilog yang menyakitkan.
::::
"Sakit."
Bukan. Bukan lukanya namun perasaannya.
Ia menarik napas panjang, dadanya teramat sesak, bahkan bernapas pun begitu menyakitkan.
"Tuhan, tolong dengar, aku mau pulang."
Lirihan yang penuh duka keluar begitu saja. Semesta seolah senang melihat senyum di sudut bibir Jeslin bertambah pudar.
"Aku hanya penikmat luka yang tidak pernah mengerti cara untuk sembuh."
"Terluka lalu lupakan"
"Sulit, tapi aku sanggup."
"Terima kasih atas semua luka yang tak pernah berujung."