Tethering
  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Tue, Aug 4, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Tahun 2022, pandemi virus telah menurun. Sara yang telah dua tahun mendirikan sebuah platform berita bersama teman kuliahnya, Ilyas, mengejar warna kehidupan lewat cerita di masyarakat. Dan setiap itu pula matanya terbuka, bahwa setiap cerita yang akan ditulisnya mengandung ironi di baliknya. Namun, era digital mengantar rasa ketidakamanannya terhadap manusia modern, menjadi seutas senyuman.
All Rights Reserved
#61
journalist
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dharma Sang Widya
  • Catatan Karantina Sang Rusa
  • KAKTUS [On Going]
  • Kita Tidak Sedang Baik-baik Saja
  • OBSSESED AUWIN JKT48 (END).🔞🔞🔞

"Saya rasa, tak semua orang harus menguasai semua pelajaran. Tak seharusnya seekor ikan dilatih untuk memanjat pohon, dan berkicau bak seekor burung," ucap seorang siswi di ruang kepala sekolah Widya Dharma, sosok gadis rupawan, nan jenius. Pendiriannya yang selalu teguh, disandingkan dengan tingkat optimisme yang tinggi. Ia yakin, sistem pendidikan di Indonesia sudah seharusnya tak lagi menganut sistem pendidikan pada zaman kolonial, maka sistem ini sudah harus sirna dari tempat ia menuntut ilmu. Widya telah menyusun ribuan siasat bersama teman-temannya, untuk terjun ke dalam jurang perjuangan penuh jerih payah ini. Ia optimis, bahwa ia akan mendapat lampu hijau untuk menciptakan pembaharuan untuk Indonesia, dan melukis sejarah baru. Naas, ledakan angka penyebaran virus COVID-19 mengharuskannya untuk menjadi seorang introvert. Ia sangat menentang hempasan takdir ini. Namun apa daya, daun penopang optimisme Widya mulai mengering, dan hanya tinggal menyambut kedatangan takdir.

More details
WpActionLinkContent Guidelines