Rindu dalam Piring Seng

Rindu dalam Piring Seng

  • WpView
    Reads 1,801
  • WpVote
    Votes 355
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 29, 2024
"Katanya, apa yang kita ingin kita makan, kadang mencerminkan apa yang kita ingin rasakan." Arum memeluk lututnya sendiri. "Kalian belajar teori kayak gitu juga?" Jari-jari Latif menyisir rambut ikal Sofa, rambut ikal yang mengingat Latif pada Ibu. "Memang kalau aku ingin manis, apa yang ingin kurasakan?" Dia tidak sempat ikut memandikan ibunya. Ketika dia datang, jasad telah siap diangkat ke masjid terdekat untuk disalatkan. Sampai saat ini, meski telah lewat tujuh hari, masih dirasakan beban di pundaknya dengan jelas ketika mengangkat keranda. Arum menatap Latif lama, mata hitamnya berkaca-kaca. "Bahagia." **** Dalam kehilangan yang mendalam, Bubur Merah sederhana terhidang dalam piring seng yang telah terkikis tepiannya. Hangat yang mengalir dari mulut hingga perut, memeluk jiwanya yang selama beberapa hari hampa. Manis yang terkecap lidah, memberi pertanda, dunia bukan hanya tentang getirnya duka. Sejak saat itu, makanan yang menjadi perlambang sosok ibu itu selalu memberi rasa nyaman dalam hati Latif. Rasa nyaman yang selalu terbetik bersama bayangan peri yang menabur bubuk ajaib hingga masakan itu tercipta. **** Arum terlalu sering menatap lautan hitam setelah berkutat belasan jam menyelesaikan ribuan hidangan untuk orang yang berpesta. Pemandangan kosong serupa hatinya yang tidak tahu apa inginnya. Dia rindu pada rasa hangat yang menjalar ketika masakan sederhananya mencipta senyum tulus berbalut syukur di wajah penikmatnya. Dia ingin kembali pada kompor minyak sederhana; air sumur pompa; pecahan beras, dan piring seng yang telah terkikis tepiannya.
All Rights Reserved
#11
kuliner
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Takdirku Untukmu (END)
  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • Bunuh Saja Aku Tuhan
  • I MISS YOU MOMMY
  • Ternyata Kamulah Lauhul Mahfudz Ku

📚 Spiritual - Romance "Saya gak gigit kok, gak perlu takut," ucap Rafa di tengah-tengah kesunyian mobil, membuat Aida tercenggang. Dila yang sedang menunduk sambil memegang erat cardigannya sontak menatap ke arah depan, mendapati suara tawa Aida dan Rafa di depan, jantung Dila semakin abnormal. "Kenapa takut sih? Bang Rafa bukan karnivora kok," ujar Aida yang membuat Dila meringis malu. "Saya omnivora." Rafa lalu terkekeh, tanpa menghadap ke arah belakang. "Bang Rafa itu omnivora, dia makan nasi, makan ayam, makan sayur, makan hati juga." Aida terkekeh pelan sambil memukuli pundak Rafa pelan. "Eh, saya memang suka hati ayam kok," tutur Rafa begitu asyik mengobrol dengan Aida. "Bukan hati ayam, Bang tapi hati Abang yang udah karatan karena udah lama gak disinggahi," ucap Aida yang membuat Dila tersenyum tipis. "Abang masih menuju halal, tunggu beberapa bulan ke depan," ujar Rafa yang membuat Dila penasaran, eh sedikit. 📚Cover dibuat dari gabungan pict Pinterest.

More details
WpActionLinkContent Guidelines