My Teacher My Daily Life

My Teacher My Daily Life

  • WpView
    Reads 409
  • WpVote
    Votes 71
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 30, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Seorang guru dan murid yang saling jatuh cinta ternyata bersahabat saat kecil. Bahkan sudah saling suka, tetapi mereka terpisah hampir selama 12 tahun lamanya karena satu malam yang membekaskan luka dihati mereka, yang akhirnya takdir menyatukan mereka kembali. "masa iya gue suka sama guru? Kapan gue suka? Kenapa gue suka? Apanya yang disukain?" Gerutu Meisa dalam kamarnya yang gelap dan sepi bagai kuburan "argh, masa gue suka sama murid sih? Gue harus gimana nih? Gue harus ngelakuin apa?" Oceh Alan dalam kamar kostnya yang terang benderang dan indah bagai istana "Gue harus gimana!!" Teriak mereka berdua dari alamnya masing masing Bagaimana ceritanya? Penasaran? Yuk ikutin ceritanya
All Rights Reserved
#343
student
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secretly Looking at You (END)
  • Love Letters [END]
  • Raka
  • Trauma
  • ELGA
  • BK VS BAD GIRL {END} ✓
  • AZAM : Satu Langit Dua Doa
  • SKRIPSUIT  ✔
  • my story
  • ALENA &  ALDO

"Ich liebe dich, Bapak Ridan." Tanpa malu, Anya mengucapkan hal itu. Ridan yang mendengarnya dibuat tertegun. Pasalnya, gadis remaja itu mengucap kata cinta padanya--guru yang memiliki perbedaan usia nyaris 20 tahun. "Dia lagi latihan buat drama, Pak," sahut Apin yang muncul dari belakang, langsung membekap dan memiting leher Anya, kemudian menyeretnya pergi. "Ada tugas dari guru Bahasa Indonesia." Pian merasa harus ikut andil untuk menghentikan tindakan Anya yang tiba-tiba itu. "Temanya ucapan kasih buat guru, sepertinya Anya salah paham sama penjelasannya. Permisi, Pak," jelas Pian yang bergegas pergi menyusul Anya dan Apin. Pipit yang berada di belakang mereka memandang Ridan dengan tajam. Ridan menghela napas, mulai lelah berurusan dengan siswa julid yang satu ini. "Kamu mau ngomong apa, Vitra?" "Makanya, Pak, cari pacar. Masa ditembak sama anak SMA," kata Pipit sebelum berlalu pergi dengan kedua tangan berada di saku celana. Ridan hanya bisa mendengkus dengan mulut terbuka. Sepertinya ia harus meninjau ulang keputusannya pindah ke SMA Merpati yang terasa seperti sebuah kesalahan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines