Faces of Love

Faces of Love

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 10, 2020
Melihat Cinta dari sudut pandang 3 orang perempuan dengan kepribadian berbeda dan cara mereka memaknai Cinta. "cinta? entahlah aku juga bingung bagaimana menanggapinya. ku rasa aku bahkan tak mampu menatap mata orang yang ku sukai lebih dari 3 setik" -Aira adia "Cinta huh? tentu saja harus membara. aku ingin mencintai seseorang dengan segenap jiwa dan ragaku dan begitupun dengannya. apa yang ku lakukan jika aku mendapati kekasihku selingkuh? tentu saja akan ku hancurkan dia, seperti hatiku yang dihancurkannya" -Zora Faranissa "Cinta? ku rasa tak masalah siapapun, dan bagaimanapun keadaannya, jika dia Cinta sejatimu, kau akan mencintainya dengan sepenuh hati. yang ku inginkan dari kekasihku? aku hanya ingin dia selalu mencintaiku, aku yang akan memberikan apapun untuknya" -kalila Shafiyah
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • ONE MORE
  • MY M3SUMM Boyfriend (COMPLETE)
  • MARRIED WITH MY FRIEND
  • Secret Admirer
  • Maria Broken Heart To My Love(Slow Update)
  • Menyakitkan
  • Rasya Vs Rasyid [END]
  • Yang Tertinggal
  • Shadows of Love

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines