Jurnal Manusia

Jurnal Manusia

  • WpView
    MGA BUMASA 107
  • WpVote
    Mga Boto 7
  • WpPart
    Mga Parte 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Thu, Aug 20, 2020
Pernahkah kamu bertanya siapa dirimu? Untuk apa kamu ada di dunia ini? Apakah aku sama dengan manusia lainnya? Atau apakah aku berbeda dengan manusia lainnya? Bagi beberapa orang mungkin pernah mendapatkan atau bahkan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tadi. Ada yang menanggapinya, ada pula yang tidak. Ada yang menemukan jawaban, tapi ada juga yang tidak. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi juga bervariasi. Ada yang menjawabnya dengan kalimat sehari-hari, ada yang dengan kalimat puitis, ada juga yang menggunakan pendalaman filosofis. Di dalam cerita ini saya akan bercakap-cakap tentang keberadaan dan perjalanan entitas yang bernama manusia. Siapkan cemilan, mari kita berlayar!
All Rights Reserved
#207
selflove
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • You're Here, But Not For Me
  • Quant (On Going)
  • pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author)
  • MAP OF THE SOUL: City of Dream (END)
  • Di Antara Kita (END)
  • Meneroka Jiwa 2
  • Just a memory~ (Lilipan012)
  • ON REMEMBERING

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman