My Number One

My Number One

  • WpView
    Reads 46
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadComplete Tue, Sep 22, 2020
Menyesal. Fio sangat menyesal membuka isi pesan dari Ibunya yang menanyakan hasil ujiannya yang selalu sama. Kalah dari Farel. Ia heran, dengan usahanya selama ini yang tidur hanya sejam dua jam tidak juga bisa mengalahkan nilai sempurna Farel yang notabenenya tidak pernah sekalipun membuka buku. Tes Tes Air mata itu terus keluar. Fio melihat jamnya dan melanjutkan menangis. Masih sepuluh menit, sebelum jam masuk kelas. Bagi pejuang seperti Fio, menangis ada tenggat waktunya. Ia bisa menghabiskan waktu untuk menangis meluapkan segala emosinya didalam bilik kamar mandi tanpa diketahui satupun teman yang mungkin akan menertawakannya jika mengetahui kesedihan Fio.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Take Me Back!
  • Arsyilazka
  • My Name is SYANARA (COMPLETED)
  • I'm Not A Villainess
  • Persona
  • My Perfect
  • That Memory✓
  • aware [COMPLETED] ✔
  • AQILA [end]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines