Friends Love

Friends Love

  • WpView
    Reads 439
  • WpVote
    Votes 194
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 21, 2020
Cinta pasti selalu hadir disetiap hubungan bahkan pada persahabatan seorang perempuan dengan dua laki-laki. ~"I like you, it's been a long time. Gak perlu lo jawab karena gue cuma mau ngasih tau. Perasaan gue gak perlu jadiin beban karena beban perasaan gue buat lo itu berat ntar bahu lo sakit, kan gue gak mau tanggung jawab kalau bahu lo sakit. Don't be burdened with my feelings for you, just enjoy it because everything will return to normal," ~"Kenapa cinta harus hadir diantara persahabatan kita," ~"Gue suka dia. Lo mau mundur dan berikan jalan atau kita bersaing buat dapatin dia?"
All Rights Reserved
#73
otkp
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Our Juvenile : MANGUN KARSA
  • [1] Stranger | Na Jaemin  [REVISI]✔️
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • Sepekan Penuh Sayang [Tamat] || Jeno & NCT Dream
  • Perihal Sandwich(End)
  • [✔] UNEXPECTE | LEE JENO
  • [1] You're Life With NCT ✔
  • [NCT DREAM] Seven Boys In My Life || arasweetstrawberry ✔

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines