"raja el barak apa acha ini gila ?"
"acha ko ngomongnya gitu"
"iya, temen-temen sekolah acha pada ngeledekin acha, kalo acha ini gila"
"acha, acha ini gak gila ko, hanya ada kerusakan pada saraf otaknya doang"
"raja el barak, apa bunda maria akan ninggalin acha, sama kaya papah ray yang ninggalin acha"
"acha bunda itu gakan ninggalin acha, asalkan acha jangan pernah nangis dan sedih"
"raja el barak apa cincin yang dikasih papah ray untuk acha masih ada?, tapi cincinnya kebesaran banget dijari manis acha"
"acha cincinnya masih ada ko, suatu saat nanti acha yang akan memegang cincin itu, ini udah malem sekarang acah bobo ya jangan lupa cuci muka, kaki dan tangan dan gosok gigi supaya kuman-kumannya tidak bersarang dibadan acha"
"iya raja el barak" acha mengangguk patuh lalu pergi menuju kamarnya, tidak lupa untuk cuci tangan, cuci kaki dan gosok gigi dan bersiap untuk tidur.
~terkadang aku hidup dipanggung sandiwara, hidup yang tak pernah nyaman, seperti anak lainnya. Aku cape hidup seperti ini, hidup dengan penuh teka teki dalam panggung. Hidup yang lebih banyak saling membunuh, hidup yang lebih banyak disiksa oleh ayah tiri dan kakak tiri, mereka jahat. Ini bukan kisah seorang psikopat yang membenci keluarga ku, ini juga bukan kisah cinderella yang disiksa oleh ibu(ayah) tiri dan kakak tiri. Tapi ini kisah acha, kisah yang penuh sandiwara keluarga dan sahabat. Dimana lebih banyak konflik bertengkar karena aku. Lebih banyak kisah lucu, disini mengajarkan kita untuk bersabar seperti aku, mengajarkan kita arti kehilangan kasih sayang. Mengajarkan kita apa arti rindu dan cinta.
-ACHA
"Nama aku bukan Zaki... tapi semua orang di sini terus memanggilku begitu."
"Zaki! Fokus, pasien ini bisa mati!"
"Aku bukan dokter... aku cuma... perawat..."
"Kalau begitu, jadilah dia. Karena kalau tidak, kita semua akan kehilangan lebih banyak nyawa malam ini."
---
Dika baru saja menyelesaikan shift panjang di rumah sakit. Matanya lelah, tubuhnya remuk, tapi hatinya tenang. Ia mencintai pekerjaannya sebagai perawat. Hidupnya sederhana: kerja, pulang, istirahat. Tak ada drama. Tak ada kejutan.
Sampai sebuah truk menghantam mobilnya di tengah hujan deras.
Saat ia membuka mata lagi... dia bukan Dika. Semua orang memanggilnya Zaki. Dr. Zaki.
Bukan di rumah sakit tempat ia bekerja, tapi di sebuah rumah sakit lapangan, dalam dunia kacau penuh suara letusan, luka tembak, dan pasien berdarah. Tak ada waktu untuk panik-karena semua orang bergantung padanya.
Dika harus berpura-pura menjadi Zaki, dokter yang tampaknya dihormati sekaligus dituntut banyak. Dalam tubuh yang bukan miliknya, ia harus menjahit luka, menolong persalinan, merancang evakuasi-semua di tengah medan perang yang ia tak tahu dari mana asalnya.
"Aku bukan Zaki. Tapi... jika aku menyerah, semua ini akan sia-sia."
Setiap keputusan bisa menyelamatkan nyawa, atau menghancurkan semuanya. Dika harus menemukan cara untuk bertahan-bukan hanya dari ancaman luar, tapi juga dari dirinya sendiri.
Apakah ini hanya mimpi buruk? Hukuman? Atau... kesempatan kedua?