Story cover for Tomorrow by pecinta-hujan
Tomorrow
  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Aug 14, 2020
Hidup tak selalu tentang langkah pasti menuju masa depan. Ada kalanya kita terjebak di persimpangan, tak tahu harus melangkah maju atau berhenti sejenak. Di antara detik-detik waktu yang terus berjalan, ada jiwa-jiwa yang diam, tertahan, bukan karena tak ingin bergerak, tapi karena lelah yang tak mampu lagi diungkapkan.

Mereka yang terlihat tersenyum di luar, menyembunyikan luka yang menganga di dalam. Mereka yang berjalan bersama orang lain, namun merasa paling sendiri di tengah keramaian. Bagi sebagian orang, hari esok adalah harapan. Tapi bagi yang lain, hari esok adalah beban-sebuah tantangan untuk bertahan dalam rasa sakit yang terus menggerogoti.

"Hari esok pasti ada, tapi adakah kita di sana?"

Pertanyaan itu bergema dalam benak mereka yang hidup dalam batas tipis antara harapan dan keputusasaan. Bertahan menjadi bentuk keberanian terbesar, bukan karena yakin akan masa depan yang cerah, tapi karena ada sisa kecil keyakinan bahwa mungkin, di balik semua ini, masih ada alasan untuk tetap hidup.

Dan di sinilah cerita ini bermula-dari sebuah ruang hampa di hati yang mencari secercah cahaya, dari pertempuran sunyi yang jarang terlihat tapi begitu nyata. Tentang bagaimana bertahan bukan sekadar pilihan, tapi sebuah perjuangan.
All Rights Reserved
Sign up to add Tomorrow to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Become an Extra or Main Character [END] by abcde_zzZZ
36 parts Complete
Sebuah pertanyaan. Bagaimana caranya untuk bahagia? . . . Seorang perempuan yang hidup tanpa kebahagaiaan, kini mendapatkannya dengan mudah. Caranya? Tidak ada. Kebahagiaannya itu lenyap seolah ditelan bumi sejak ia lahir dan membuka matanya. Kehidupannya yang miris sungguh sangat disayangkan. Tapi, satu kejadian yang ia anggap itu adalah awal kebahagiaannya adalah... Saat ayahnya sendiri yang mengambil nyawanya. Sebuah kebahagiaan yang perempuan itu dapatkan sekian lama, akhirnya lenyap lagi karena suatu hal yang kembali terulang. Dalam mimpinya, seorang gadis memberinya harapan dengan hidup bahagia bersama orang-orang yang akan mencintainya. Tapi itu pun kembali lenyap seakan kebahagiaan enggan untuk dimiliki oleh perempuan itu. • • • Apakah kehidupan keduanya ini bisa menebus penderitaannya? Jika bisa, bagaimana cara mempertahankannya? Dan jawabannya selalu, TIDAK. • • • " Katanya, kebahagiaan tidak bisa terus dimiliki. Layaknya roda berputar, semua hal bisa didapatkan, meski itu hal yang tidak diinginkan. Semua hal yang didapatkan tidak akan selalu hal baik. Baik di dunia manapun, hal baik tidak selalu tetap. Itu bukanlah hal yang kekal. Tidak perlu juga mencari apa itu kebahagiaan dan bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan. Karena saat mensyukuri semua yang kita miliki, saat itu juga kita akan merasakan kebahagiaan dengan cukup." Ucap seseorang yang sudah terbiasa menerima kebahagiaan selama hidupnya dan tidak pernah tahu apa itu kesengsaraan. . . . ⚠️⚠️⚠️ →Cerita ini murni hasil imajinasi saya sendiri❗ →Tidak menerima plagiarisme dalam bentuk apapun❗ →Mohon maaf jika mungkin ada beberapa kata yang kurang tepat atau salah pengetikan, dan juga mungkin ada kesamaan dalam nama atau watak karakter. ⚠️⚠️⚠️ ♡♡♡
You may also like
Slide 1 of 9
Miracle of Survival [END] cover
Jauh. Esok Nanti atau Selamanya cover
Breathe cover
Perihal Waktu  cover
Pathetic 2 ✓ cover
Hopeless cover
Di Antara Tawa dan Tragedi  cover
Become an Extra or Main Character [END] cover
Welcome Home, Saga!  cover

Miracle of Survival [END]

49 parts Complete

"Bahagia? Bahkan aku terlalu takut buat mikirin hari esok." Ucapannya lirih, tapi cukup menusuk di antara dinginnya malam. Matanya kosong, seolah raganya hadir di sana, tapi pikirannya tersesat entah ke mana. Sejak kecil, hidup tak pernah memberinya ruang untuk bernapas lega. Bahagia hanya terdengar indah di kepala orang lain, tapi tak pernah nyata dalam hidupnya. Terlalu banyak kehilangan, terlalu banyak luka, sampai ia kebal-bahkan pada harapan. Suara-suara yang tak bisa ia hentikan, bayangan-bayangan yang tak bisa ia usir; skizofrenia mengurungnya dalam dunia yang tak dipahami siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Hari esok? Baginya, lebih menakutkan dari hari ini. Karena esok hanya menuntut satu hal: "Masih kuat, nggak?"