Titik Balik (Kumpulan Puisi)

Titik Balik (Kumpulan Puisi)

  • WpView
    LECTURAS 48
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, ago 18, 2020
Aku berada di sebuah titik yang tak dapat terlihat oleh siapapun. Pada titik itu, hanya ada aku dan secuil sinar yang tak tahu entah berasal darimana. Aku, sedang berada di sebuah titik balik kehidupanku. *Haii readers!!! ada yang baru nih dari aku.. tapi kali ini, spesial edisi berbeda hehe😃 pada titik balik kali ini, aku akan menemani hari-hari kalian yang sepi dengan puisi-puisi ku, yang semoga dapat membantu menenangkan hati. bantu aku dengan terus beri dukungan di setiap tulisanku yaa:))) salam, dandelion❤
Todos los derechos reservados
#3
tersenyum
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Sudut Luka Nazea
  • Andai bisa
  • Jejak
  • sayangnya cila ke ciara
  • 𝙏𝙧𝙖𝙣𝙨𝙢𝙞𝙜𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙈𝙞𝙘𝙝𝙚𝙡𝙡𝙚 [ tahap revisi ]
  • The Upside Down World : Poets Antology (Completed)
  • Aleysha Please Don't Go!
  • Senja (Diangkat Dari Kisah Nyata)
  • Ketika Tulisan bercerita?
  • Just about my feeling 💜

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido