
Saat aku biasa saja, tingkahmu selalu berubah seolah meyakinkan bahwa benar adanya cinta. Tak hanya sebatas cinta. Bahkan menyampaikan berbagai rasa. Hati. Wanita. 2 kata yang ketika disebutkan akan melahirkan satu pernyataan dibenak setiap manusia. LEMAH. Mungkin memang aku yang salah, mengabaikan apa yang sudah tertanam lama, "jangan pernah anggap itu cinta sebelum ada kata nyata." Sikapmu yang terlalu membuai membuatku kian lalai. Aku yang terlalu polos, sedang kamu sudah terlalu handal dalam berperan. Haruskah aku lupakan? Atau tetap bertahan pada perasaan paling menyakitkan?All Rights Reserved
1 parte