Enough, I'm Tired

Enough, I'm Tired

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 13, 2020
Life story Ketika seseorang seakan dilahirkan hanya untuk menderita. Di setiap detik dan langkahnya, semesta merusak. Gadis rapuh yang berusaha tegar demi tetap hidup. Sejauh ia bernapas, berapa kali dadanya tertusuk oleh takdir? Ia punya siapa? Tak ada. Ia sendiri. Meski tak secara fisik. Hidupnya sesunyi dan sesakit yang tak pernah terbayang. Ingin rasanya menyerah. Tapi, bagaimana caranya?
All Rights Reserved
#25
tidakadil
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Benalu [Terbit]
  • ALONE
  • Sepotong Kekosongan [ THE END ]✔︎
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • Hopeless
  • LUKA!
  • Menyerah atau Bertahan?
  • The Silence That Shaped Me
  • DEAR ANNA (LENGKAP)

"Bahkan ibunya sendiri membuang anak itu." Semesta pun menghiraukannya, seperti bayangan yang tak pernah di anggap ada, seperti benalu yang tidak pernah di inginkan kehadirannya. *** Nyatanya, ada hasil yang menghianati usaha dan tidak semua usaha akan di kabulkan dengan hasil yang baik. Ya, Teresa sadar hal baik tidak akan pernah ada dalam kisah hidupnya. Benalu akan tetap menjadi benalu, sang penganggu yang tak pernah di inginkan ada. Tangisan pilu selalu keluar dari mulutnya yang menyimpan banyak kisah luka, entah waktu kecil atau bahkan sampai sekarang. "Seharusnya anak seperti kamu tidak lahir dari rahim saya!" ucap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Teresa Audiyatama. Seseorang yang berusaha menghilangkan label 'benalu' dan 'anak pembawa sial' di dalam diri dengan berbagai cara. Sakitnya di permainkan, di jadikan alat balas dendam, mendapat penghianatan yang begitu menyakitkan, sampai harus kehilangan orang-orang yang di sayangi. Tapi, kenapa semesta masi tidak mau berbaik hati padanya? Rasa sakit itu semakin menyakitkan. Setiap hari lubang kelam di hati semakin dalam, menyisahkan kekelaman yang mengerikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines