Sebuah tempat yang mulanya dibuat untuk tempat berbagai percobaan, kini menjadi sauna bagi mereka yang meninggalkan rumahnya. Berbagai teknologi yang belum ada di abad ini, sudah tercipta di tempat itu.
Para anak-anak dewasa memilih menetap disana demi memenuhi ambisi, hobi, dan menggapai tujuannya. Mereka rela membuang sisi kemanusiaan demi ego semata. Di dunianya kejahatan sesuatu yang tidak boleh dilakukan, apabila melakukan kejahatan, hukuman menunggumu di depan sana. Di tempat baru yang mereka tinggali justru sebaliknya. Kejahatan dihalalkan, kejahatan menjadi pekerjaan sehari-hari. Tidak ada aturan yang melarang kejahatan, tidak ada hukum yang mengekang.
Berbeda dengan kejahatan pada umumnya yang selalu merugikan dan dirugikan. Disana kejahatan mereka justru menguntungkan dan menghasilkan kebaikan yang jarang orang lakukan.
Dunia di dalam dunia, mungkin itu sebutan yang pas untuk sebuah tempat yang jauh dari sorotan penduduk plante bumi. Tempat yang terisolasi dari luar. Bukan karena suatu wabah yang menyerang tempat itu hingga di isolasi, melainkan karena teknologi, sistem dan para manusia di dalam sana yang keberadaannya tidak boleh sampai terekspos ke dunia luar.
Lihatlah manusia....
makhluk berakal, katanya,
tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran
dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun.
Mereka lahir dengan tangan kosong,
namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam.
Satu takhta tak cukup,
satu negeri terlalu sempit,
satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi.
Mereka mencipta Tuhan
dari kaca dan bayangan,
lalu menjadikannya alasan
untuk menyalakan api di rumah sesamanya.
Lalu, ketika tubuh hangus terbakar,
mereka berkata: "Ini takdir, ini suci."
Padahal semua hanya siasat licik,
untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam.
Di medan perang,
tidak ada musuh sejati,
hanya cermin-cermin retak
yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan.
Manusia menanam senyum
di bibir diplomasi,
sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru
ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah".
Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan,
dan langit pun tak sudi menurunkan hujan,
mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC,
membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham.
Oh, manusia bukan makhluk sosial-
mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas.
Mereka berdiri di atas kuburan
sambil berkata: "Semua demi kemajuan."
Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat?
Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata?
Mereka mencipta kata-kata indah-
"perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan",
tapi semuanya hanya selimut
untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan.
Sejatinya, manusia mencintai kehancuran-
sebab di puing-puing itu,
mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan,
padahal fondasinya dari daging dan darah.
Tak ada yang suci dalam perang.
Tak ada yang heroik dalam membunuh.
Yang ada hanyalah manusia-
yang selalu lapar,
selalu haus,
selalu ingin menjadi Tuhan
tanpa pernah bisa menjadi manusia,.