Kita, antonim. Dua perbedaan, yang tak akan bisa bersama. Semua bencana, timbul dariku. Dan semua kebahagiaan, berasal darimu. Jujur saja, aku akan sangat bergantung padamu. Namun sayang, kau tak bisa bergantung padaku. Aku hanya kesialan, yang tak pernah diinginkan oleh orang lain. Tetapi, kau selalu tak ingin berada jauh dariku. Entah kau hanya kasihan, atau mungkin benar-benar sayang kepadaku?.
Kau adalah malam, sedangkan aku adalah pagi dan siang. Bukannya aneh? Aku akan selalu menemani orang-orang dengan kesialan. Maka dari itu, menjauhlah dariku, tak usah mengenalku, atau kau akan merasakan akibatnya.
"Jika kau masih sayang pada dirimu, dan orang disekitarmu, maka biarkan aku tuk hilang dari bumi ini. Agar tak ada lagi kesialan, bencana, dan rasa benci."
Berawal dari kecerobohanku yang menerima rasa perhatianmu dengan rasa nyaman. Menganggap itu adalah sebuah rasa ketertarikan, nyatanya itu adalah luka yang sedang tertanam.
Ada raga yang ingin kumiliki, ada tangan yang ingin kugenggam, dan ada hati yang ingin ku bahagiakan. Namun sayangnya, dihatimu sudah ada yang bertamu lebih dulu.
Sedari awal asmara hanya sebuah lelucon untuk menemani sunyi malammu. Aku terlanjur menyelam rasa, menerimamu dengan berbagai asa. Berharap aku yang menjadi pujaan. Ternyata, aku hanyalah tempat mu tuk singgah sejenak disaat dia tidak ada. Aku bukan lah tempatmu menetap.
Alden, Terima kasih sudah menghadiahi luka yang tak disengaja, dan melepasmu adalah jalan satu satunya menghapus gerimis setiap kali langit menangis.
Tertanda, Risel.