Sebelum Cahaya

Sebelum Cahaya

  • WpView
    LECTURES 2,573
  • WpVote
    Votes 397
  • WpPart
    Chapitres 18
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., déc. 15, 2023
"Awalnya hidupku terlalu gelap. Lalu kamu datang, serupa embun pagi yang menyejukkan sebelum cahaya. Perbedaannya hanyalah, kamu tetap ada. Tidak menghilang seiring secercah cahaya yang perlahan tiba." -Crystal Dilara Deehan- "Kamu adalah satu jawaban, dari banyak perbincangan yang pernah kuutarakan pada Allah sesaat sebelum cahaya tiba." -Reza Ebraheem- Spin off dari cerita The One That Got Away. Follow authornya, vote, comment, dan share link nya ke temen-temen kalian. Teng kyuuu :))) Bacalah selama masih on going, karena setelah tamat akan dihapus sebagian :)
Tous Droits Réservés
#46
islamicstory
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • senja di matamu
  • Pelabuhan Terakhir (Proses Cetak)
  • Diary HijrahKu [COMPLETED✔]
  • Ingkar 🌿|| Ending
  • Gus Zhafi
  • Hafizhah [sudah terbit]

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu