Sedingin Kutub [HIATUS]

Sedingin Kutub [HIATUS]

  • WpView
    مقروء 751
  • WpVote
    صوت 217
  • WpPart
    فصول 14
WpMetadataReadمستمرّة
WpMetadataNoticeآخر تحديث: أربعاء, سبتـ ١٣, ٢٠٢٣
Daffa itu ketua osis yang super dingin. Berada di dekatnya seperti sedang berada di kutub utara dan juga selatan. Dingin dan juga mencengkam. "Lo masih suka sama Daffa?" Retorik. Seharusnya Septian tidak mempertanyakan hal konyol seperti itu. Sudah jelas sekali bahwa Starla masih menyukai Daffa sampai Daffa membalas cintanya. "Menurut lo?" tanya Starla balik. Septian mengangguk ragu, antara iya atau tidak. "Nah itu tau," ucap Starla, kemudian kembali melirik televisi yang sedang menunjukkan acara kesukaannya. "Berhenti deh, dia itu cuma bayangan Star." jeda tiga detik digunakan Septian untuk meneguk minuman dingin yang ada dihadapannya. "Kenapa harus bayangan?" tanya Starla polos. "Ya, karena bayangan cuma bisa diliat doang. Dia nggak bisa digapai, dia bahkan hilang saat ada dalam kegelapan." Septian membasahi bibir bawahnya sok serius. Starla mengangkat kedua bahunya. "Serah," ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan Septian diruang tamu bersama dengan televisi yang masih menyala. Tidak guna berbicara dengan abangnya itu. Lebih baik ia memperhatikan Daffa dari sebrang jendela kamarnya. Itu lebih baik daripada harus berbicara tidak jelas bersama Septian. Bodo amat jika ia harus melewatkan acara kesukaannya itu, yang penting ia tidak ketinggalan untuk melihat Daffa sebelum sweet sleepnya malam ini. "Sampai kapanpun, gue bakal tetap suka sama lo Daf." Starla tersenyum miring sambil bergumam tidak jelas saat melihat Daffa yang sedang tertunduk serius dimeja belajarnya. Baca dulu, siapa tahu suka:)
المشاع الإبداعي (CC) - نَسب المُصنَّف - الترخيص بالمثل
#179
daffa
WpChevronRight
انضم إلى أكبر مجتمع لرواية القصص في العالماحصل على توصيات قصص مخصّصة، احفظ قصصك المفضلة في مكتبتك، وقم بالتعليق والتصويت لتنمية مجتمعك.
رسم توضيحيّ

قد تعجبك أيضاً

  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • My Quuen is Bad Gril
  • Amor Eterno
  • Marga Alvarezka
  • ZERGAN
  • MY BOS IS MY (HUSBAND)-(YIZHAN) (END)✔️
  • GHAVARI
  • Hema Alkaris (and his life)
  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

تفاصيل إضافية
WpActionLinkإرشادات المحتوى