ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ‧₊˚ 📖: 제자리걸음 (𝗦𝘁𝗶𝗹𝗹 𝗛𝗲𝗿𝗲) ༎ 𝖲𝖾𝗎𝗇𝗀𝖻𝗂𝗇 ˚₊‧ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ₍ 🍀 ₎ « 𝅘𝅥𝅮 » Inspired by Seungmin 제자리걸음 (Still Here) « ☘︎ » A story about regret, unsaid words, and the loudest silence « 💭 » Brotherhood • Songlit • Slow Burn • Slice of Life • Alternative Universe • Drama • Coming-of-Age • Heavy Angst • Hurt/Comfort "Kim Seungmin ... Kalau aku mati besok, apa kau akan menangis?" "Buat apa menangis? Aku justru akan berpesta." Seungmin selalu mengira ucapan asal-asalan itu hanya sebatas gurauan konyol di antara mereka. Bagi Seungmin, Changbin bukan sekadar kakak sepupu, melainkan seluruh riuh di masa kecilnya. Namun, saat hadir orang baru perlahan menggeser posisinya dari prioritas utama, membuat rasa cemburu dan keegoisan mendadak menguasai. Ia memilih membalas rasa tersisih itu dengan cara paling dingin: menyembunyikan rencana kepindahannya ke New York hingga hari keberangkatan tiba. Ketika rahasia itu akhirnya terbongkar, pertengkaran hebat pun tak terelakkan. Didorong gengsi yang membakar dada, Seungmin meneriakkan sebuah kalimat dengan makian paling kejam. "Tidak perlu berlagak peduli. Dan jangan pernah datang ke bandara!" Changbin benar-benar tidak pernah muncul di Bandara. Bukan karena membenci adiknya, melainkan karena tubuhnya terhempas dalam kecelakaan fatal saat nekat mengejar si anak anjing yang keras kepala. Kini, di bawah riuhnya kota New York Seungmin hidup seperti mayat berjalan. Tidak ada pesta seperti gurauannya dulu. Ia terjebak di seberang samudra demi beasiswa, hanya ditemani sepasang headphone tua, hoodie kebesaran sang kakak, dan rasa bersalah yang tak pernah berhenti mencekik lehernya setiap malam. Ia selalu menangisi dua kalimat Changbin yang kini terasa seperti omong kosong: "Memangnya aku mau pergi ke mana? Aku akan selalu di sini bersamamu."
More details