Jarak Panah

Jarak Panah

  • WpView
    Reads 933
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 7, 2021
Bagi mu mungkin dunia berlaku buruk, tak berpihak, mengecewakan, hingga bersikap tak adil. Itu bagimu, tapi untukku dunia memperlakukan setiap manusia tetap pada apa yang seharusnya, kebahagian, tangis, duka, dan perasaan. Bagian mu mungkin menyakitkan, tetapi beberapa dari mereka mungkin saja lebih berduka dari yang seharusnya. Pada sebuah buku kudapati "Sayangnya, hidup ini adil. Karena ia tidak adil kepada semua orang." Manusia dan luka nya, kita tak akan pernah benar-benar paham hingga kita menyelesaikan bagian yang seharusnya.
All Rights Reserved
#192
belajar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Terkulai Tapi Tak Layu
  • Pacarku Misterius [HIATUS]
  • Air Mata Cinta
  • Senandika Luka [Lengkap] ✔
  • save me
  • Haruskah Aku Bertahan?
  • Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
  • broken home
  • [S1] The Beginning Of Our Destiny [DIBUKUKAN]

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines