Suratan Fajar kepada Hujan

Suratan Fajar kepada Hujan

  • WpView
    Membaca 31
  • WpVote
    Vote 5
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Agt 24, 2020
WpInfo
Fiksi
Romansa
Aku Rina, orang-orang biasa memanggilku Rin, penikmat indahnya sang fajar dan derasnya air hujan. Hal paling menyenakan ketika hujan ialah aku dapat berbagi cerita denganya tanpa ada kata yang membalas hingga menyakiti hati untuk bercerita, sehingga yang ku dengar hanyalah percikan derasnya air dari awan yang menenangkan. Fajar... ialah waktu di mana kita bisa berbagi cerita terutama di waktu sepertiga malam-Nya lalu disambut dengan alunan suara adzan yang berkumandang dengan merdunya. Sang fajar... Apa yang pertama kali orang pikirkan tentang fajar tiba? Kau tahu? Ketika fajar tiba, kita harus banyak-banyak bersyukur, sebab kita masih diberi waktu untuk terus beramal dan bertaubat ketika kita terbangun dari tidur nyenyak kita. Pasti penasaran kan???? Yuk jangan lupa vote and comment.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#7
deardairy
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • Rain Sound
  • Pelangi Setelah Hujan
  • Fajar & Senja
  • Rainangkasa [TERBIT]✅
  • Alena, Si Gadis Hujan
  • Haters and Lovers of Rain [END]
  • RAIN

Ini tentang keluarga. Juga tentang hujan yang indah. Seperti halnya Naradra Carolina Abastra. Penyuka kaos oversize juga celana training yang sedikit kepanjangan. Gadis biasa-biasa saja dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Ketika rintik-rintik hujan saling berjatuhan hingga berubah deras. Dia selalu ada untuk melihatnya menyambut bumi. Menciptakan suara melodi yang indah, dibalik awan gelap. Begitu juga dengan bunga dandelion, indah dengan caranya sendiri. Terbang bebas tanpa takut terlihat berbeda. Karena itu Nara suka dengan keduanya. Namun kekakuannya hanya satu, yakni seorang Damantara Gusti Pangestu. Lelaki dengan rambut kecoklatan dan kacamata bulat yang bertengger sempurna menghiasi wajahnya. Bukan laki-laki culun juga berandal. Gusti selalu berhasil menjungkir balikkan hatinya. Dengan mata hitamnya yang memikat. Sayangnya, dia bergerak untuk sebuah rahasia kelam. Namun, jika waktu terus mengikis rahasia yang selama ini mereka tutup. Apakah Tuhan masih memberi kesempatan untuk bersama? Atau justru mereka sendiri yang akan pergi, meninggalkan jejak yang kian dalam? __________________________________________________ Gusti menghela napas. "Mau tau sesuatu?" matanya menatapku begitu serius. "Sesuatu?" Laki-laki itu mengangguk. "Tentang semua ini, yang mungkin buat lo risi?"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan