SATRIO
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 15, 2020
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang membawaku ke sebuah rumah usang. Rumah yang dulu pernah aku tinggali bersamanya. Memutar kembali reka adegan yang mampu membuatku terkulai didepan bangunan tersebut. Air mataku mengalir. Teriakan yang tak bisa ku keluarkan melalu pita suaraku seakan menggema didalam dadaku. Ini sesak. Semakin sedak karena mataku bahkan tak bisa berkedip memangdang kenangan-kenangan yang pernah kami buat disana. Bersamanya. Dia yang membuatku bisa tertawa lepas. Dia. Yang kini bahkan tak lagi bisa kugapai.
All Rights Reserved
#43
satrio
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • When Love is Breaking
  • Retak yang Dipeluk
  • Aku, Kamu dan Hujan
  • Mahligai Sunyi
  • Missing { Who Are You}
  • • EUTANASIA •
  • TAK BERSAMBUT
  • Still Ours [Hiatus]
  • Merayakan Kehilangan (Selesai)

Untuk beberapa alasan aku tidak ingin melepaskannya jauh dariku. Tapi hubungan kami tidaklah sejelas itu, hanya saja banyak orang yang menganggap bahwa sebaiknya status diantara kami diperjelas saja. Tapi ada satu ikatan kuat diantara kami yang membuat aku tidak bisa berada jauh darinya dan mungkin tidak bisa melepaskannya. Ketika menatap dirinya aku merasa bahwa dia adalah saksi dari kenangan masa lalu yang tidak ingin kuhapus keberadaannya. Menjaganya agar tetap berada didekatku adalah hal yang aku lakukan sejak lima tahun ini. Pria itu seperti payung bagiku yang melindungiku dari sengatan matahari dan juga rintik hujan. Tapi satu hal yang tidak dimiliki olehnya yaitu karena dia bukan pria yang aku cintai. Bagiku jika aku tidak bisa merasakan perasaan yang sama seperti ketika aku bersama dengannya, maka bagiku perasaan itu bukanlah cinta namanya!

More details
WpActionLinkContent Guidelines