Never Be The Same

Never Be The Same

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 28, 2020
Mengisahkan Violetta Aurora yang berubah menjadi Verronicha Alexa Ryqueen wanita kejam,penuh kebencian serta ambisius. Ia kehilangan segala yang ia sayangi dan membuat ia menjadi seperti sekarang. Kematian yang dulu terus menghantuinya kini menjadi dendam mendalam. Akankah ia kembali menjadi Violetta Aurora gadis ceria, dan barbar ataukah ia akan tetap menjadi Verronicha Alexa Ryqueen wanita yang penuh dendam?! Baca ceritanya yuk... Cerita kedua aku tapi disini versi Sahabat Zanara yang menghilang 6 tahun lalu bersamaan perginya Zaidan.
All Rights Reserved
#788
benci
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 360 and Still Me
  • The Journey
  • AZRAELLA
  • The Pain We Never Said
  • ARSENIO (END)

Violetta Lanora Adinata pergi tanpa pamit-meninggalkan cinta pertamanya, sahabat-sahabat yang pernah jadi rumah, dan serpihan kenangan dari masa putih abu-abu yang tak selalu manis. Tak ada kata maaf, tak ada salam perpisahan-hanya kepergian yang sunyi, dibungkus diam yang panjang. Namun waktu, dengan caranya sendiri, menyeretnya kembali ke tanah tempat segalanya bermula. Dan di sana, semesta seolah tak memberinya pilihan lain selain menghadapi apa yang selama ini ia hindari-luka lama, tanya yang tak pernah terjawab, dan cinta yang mungkin belum benar-benar usai. Alvaro Nata Prabawa-tinggi, berwibawa, dengan wajah yang nyaris mustahil diciptakan tanpa sentuhan seni ilahi. Garis rahangnya tegas, hidungnya bangir sempurna, dan sepasang mata tajam yang dapat membuat siapa pun yang ia tatap menjadi membeku dan terpana. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dingin, nyaris menusuk. Tapi yang membuatnya terhenti sejenak adalah kenyataan bahwa gadis itu, gadis bermata hazel yang dulu selalu menatapnya dengan mata penuh kelembutan, kini membalas dengan sorot mata yang sama tajamnya. Sama menusuknya. Seolah waktu telah mengajarkan mereka bagaimana menjadi asing, mereka kini berdiri sebagai dua kutub yang tak saling mendekat, asing dalam bayang-bayang kenangan yang belum selesai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines