Rose (Setangkai Mawar)

Rose (Setangkai Mawar)

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 27, 2020
Bukan perkara ditinggalkan, melainkan penyembuhan yang butuh jangka waktu panjang. Jangan datang membawa luka, tapi datanglah membawa cahaya dalam gelapnya masa depan kelak. Jika hanya mampu menyakitkan, biar aku sendiri yang membahagiakan diri ini, kamu jangan terlibat. "Pergilah, jika itu bahagiamu. Suatu saat nanti jika kamu menyesal jangan salahkan siapa-siapa, karena yang patut disalahkan adalah dirimu sendiri. Biarlah aku hidup dengan caraku, tanpa ada campur tanganmu mulai detik ini, Genta." ucapan Rose lantang tanpa menampakkan raut sedih melainkan hanya menampakkan wajah datar dan dingin. Genta yang mendengar kata-kata Rose hanya mampu memejamkan matanya seraya menahan amarah. Pelik hidup membuat gadis yang disapa Rose itu seketika berubah menjadi gadis yang dingin. Susah untuk diluluhkan. Akibat takdir yang tidak pernah menetap walau beberapa jam. "Kamu tidak akan pernah mengerti, Rose!" Suara Genta meninggi satu oktaf akibat sesak yang dirasakan. "Kau yang lebih tidak mengerti, Genta." balas Rose tidak kalah tinggi dengan suara Genta. "Aku kalah." ucapan Rose lirih, samar-samar Genta mendengarnya, Sebelum Rose benar-benar meninggalkannya di taman Kota. Hati Genta semakin sakit atas semua ucapan Rose terhadapnya malam ini. "Aku juga kalah, Rose." Genta berucap pelan, hanya ia yang bisa mendengarkan. Kemudian ia luruh ke tanah dan meninju sandaran bangku besi yang berada disebelahnya untuk meluapkan emosi yang tertahan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TIME will TELL {On Going}
  • ALEYA~~
  • Cause We are Family
  • Brothers?! [Boboiboy Elemental Siblings] (On Going)
  • save me
  • BHS
  • Save and Protect
  • ALONE

"Selamat Tinggal." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar sebelum sebuah benda pipih dan tajam menikam jantungnya. Mata berwarna jingga layaknya api yang berkobar itu menatap kearah sang pelaku yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Sialan kau...seandainya saja...kau tidak pernah dilahirkan dan fakta bahwa kau adalah adikku..." "Kiamat ini tidak akan pernah terjadi." Pedang yang ada di tubuhnya ditarik keluar membuatnya tersungkur di lumpur yang sudah digenangi oleh darahnya sendiri. Melihat bahwa lawannya sudah lumpuh si 'adik' itu pun pergi meninggalkan si 'kakak' menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya. ■□■□■□■□ Mata jingga itu terbuka lagi, kini di depannya ada sebuah jam besar yang jarum jamnya tidak berdetak sama sekali. "Apa yang akan kau pilih, nak? Menyerah dan mati disini atau mengulang kembali waktu yang telah kau sia-siakan?" "Kembalikan aku agar aku bisa menebus kesalahanku yang dulu." "Senang mendengarnya~" □■□■□■□■ Apakah anak itu bisa melakukan perjalanannya? Rintangan apa yang akan ia lalui selama melakukannya? Hanya waktu yang akan menjelaskannya nanti. ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||| Karakter di cerita ini milik @Monsta. Dan video+gambar yang aku cantum bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. Maaf jika ada kesalahan kata atau kekurangan. Silahkan berikan kritik dan saran untuk membantu meningkatkan kualitas novel ini. ♡Selamat Membaca♡

More details
WpActionLinkContent Guidelines