FADIL
  • WpView
    Reads 75,308
  • WpVote
    Votes 8,241
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 6, 2025
Fadil itu pintar tapi standar menurut Papanya. Mereka sudah seperti anjing dan kucing pokoknya. Tidak ada yang pernah mau mengalah. Tapi Papanya cukup menyenangkan. Mama Fadil itu tegas sekali, kadang Fadil sampai canggung dengan Mamanya sendiri. Mereka, Mama dan Papa Fadil tidak tinggal bersama. Alias sudah berpisah. Fadil lebih sering bersama Ridwan, Papanya. Dengan Mamanya -Gina- mungkin hanya saat weekend saja, itupun jarang. Fadil itu petakilan tapi Cool. Pintar tapi sok merendah. Rajin mendengarkan, tapi sok malas. Fadil itu penurut, kadang. Lebih sering bandel sih. Untung ganteng. Kalau nggak, mana mau para bidadari SMA Merdeka mengejar-ngejarnya. Fadil itu nggak bisa ditebak. Sifat, tingkah laku dan semuanya sering berubah-rubah. Mereka,teman-teman dan orang di sekitarnya kadang bingung, sebenarnya Fadil itu orang seperti apa?
All Rights Reserved
#637
sickstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • Terima kasih Imajinasi [end]
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • MEMELUK LUKA [END]
  • Just Once ✔
  • DAFA STORY
  • Gheisha
  • DANADYAKSA
  • Sebuah Tanggung Jawab Kecil
  • 7 HOPE NADIA

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines