Menanti Rintik

Menanti Rintik

  • WpView
    Reads 311
  • WpVote
    Votes 139
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 4, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Teruntukmu gadis hujan yang selalu termenung kala rintik itu menyentuh wajahmu, saat kau menarik lengkung bibirmu sambil memejamkan mata seakan tengah berbincang dengannya. Kau indah kala itu ~Dafandra Sagara~ Teruntukmu pria ceria yang selalu menatap bintang, aku merindukan senyumanmu yang kini tak dapat kutatap diam diam, walau rasa ini hanya sebatas angan, walau tak pernah ada jawaban dari sebuah pengakuan, tak apa tapi ku mohon kembalilah ~Raina Rahastari~ Teruntukmu gadis pendiam yang membenci keramaian, ada banyak kata yang ingin aku ucapkan, namun diri ini terlalu bungkam. Maaf karena telah berbohong kepada mu, aku begini karena tak ingin sedihmu, semoga senyum itu tetap ada walau tanpa diriku ~Arka Anggara~ Karena cinta bukan tentang seberapa lama kita menanti juga bukan tentang seberapa besar rasa yang dimiliki. Cinta lebih indah dari itu saat air mata tak mampu lagi bicara saat bibir tak mampu mengungkapkan kata dan saat telinga yang tak mampu mendengar gema saat itu juga Mengikhlaskan adalah titik terindah dalam cinta.
All Rights Reserved
#373
rahasia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • The Last Birthday With You
  • Suara Dalam Aksara
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • ALISHA (end)
  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • Cinta Berbalut Puisi

semua kisahku bermula saat pertama engkau hadir dihadapan mataku. wajah itu tak pernah hilang dari bayangan anganku. selalu menghanyut senyummu dalam kalbuku. semua kisah puisi hanya menggambarkan tentang keindahan dirimu. tak pernah bosan tanganku menulis untukmu. tak pernah lelah jemariku melukiskan indahnya parasmu. sinar mentari,tiupan angin,desiran rumput,kemersik daun,kicauan burung,gemercik air, bag menggambarkan pesona indah parasmu. alunan seruling bambu,senduh dentingan gitar, terus mengiringi merdu suaramu dalam relung hatiku. tak pernah lupa selalu terngiang dalam kepalaku " bang Ar!". setiap saat, setiap hari, aku berusaha selalu ada untukmu. menjagamu sekeras apa pun, membimbingmu sejauh apa pun, menuntunmu sesulit apa pun. bagai sepasang merpati yang selalu terbang beriringan, bagai sepasang kelinci yang selalu melompat bersamaan. namun, aku hanyalah akar untukmu. yang menopangmu, menjaga agar kau tetap berdiri.namun, aku hanyalah aliran air untukmu. yang menjadi wadah untukmu berenang semakin jauh. senyummu adalah bahagia untukku, namun tangismu bukanlah sedihku. karena aku harus kuat untuk membuatmu tersenyum sepanjang hari. hingga kau melantunkan suara merdumu "bang Ar!". namun, bagai dentuman guntur di siang bolong, bagai derasnya hujan di panas terik. semua berubah karena ke egoisanku. karenaku, bunga yang indah mekar kini layu dan gugur. karenaku, angin sepoi peniup melodi kini menjadi badai topan yang ganas. yang tinggal hanya dentingan pedang yang beradu, hanya desingan peluru yang memburu. saling membekas luka, menyayat sembilu dalam relung hati. menjatuhkan merpati, membinasakan kelinci, menumpahkan darah di sepanjang perjalanan yang tersisa. kini hanya ada akar tanpa pohon, air tanpa ikan, dan selembar kertas putih. kini yang terbakar hanya amarah yang mengatakan "tolong jauhi aku!".

More details
WpActionLinkContent Guidelines