The BestFriend

The BestFriend

  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 8, 2020
Ini menceritakan tentang 3 wanita yang menjalani hidup bersama, Ada susah ada senang. Itu yang mereka jalani, namun Mereka memperbaiki Situasi seperti semula 3 wanita itu adalah Nabila, yang berumur 15 tahun dia yang paling tua diantara 2 wanita itu Sikapnya Begitu tegas. Namun Humoris Orangnya To the point, tak suka basa basi dan Tak suka Manja, wajah yang begitu manis hingga para lelaki Menyukainya Alexa, wanita Yang Berumur 13 tahun. Sikapnya begitu humoris. Kadang Jutek dan kadang Ada baiknya. Cukup manja Tapi tak terlalu. Wajahnya begitu imut dan cantik. Nella, wanita Yang Berumur 13 tahun Tak jauh umurnya dari alexa. Namun lebih tua nella. Mempunyai sikap yang Emosional, dan Begitu pemalas Tapi tak terlalu, pikiranya selalu lemot hingga membuat orang kesal. Namun mempunyai sikap yang baik. Mata sipit Dan badan sedikit terisi(kurus tapi Berisi) Happy Reading:)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESA PUNYA CERITA
  • THREE LITTLE FOXES (END)
  • Kami yang Berdosa
  • Dendelion🍀
  • Alex(A)
  • I FOUND YOU S2
  • ALEYA~~
  • Antara Cinta dan Persahabatan

Azis Mahendra selalu hidup mewah di kota, terpaksa ikut keluarganya mudik ke desa. Ia kesal-baginya, desa terasa asing, tak nyaman, dan jauh dari standar hidupnya. Namun semua berubah ketika ia bertemu Ratih Prameswari, gadis desa 15 tahun yang hangat dan ramah. Mereka pertama kali bertemu di pasar. Azis merasa risih dengan bau amis dan suasananya yang ramai, sementara Ratih justru tertawa melihat kepanikan Azis. Percakapan singkat mereka dalam bahasa Jawa halus jadi pembuka hubungan mereka. Hari-hari berikutnya membawa mereka ke kebersamaan yang tidak direncanakan. Mereka naik sepeda menyusuri jalanan desa, melewati sawah, tertawa saat tercebur parit karena ceroboh. Azis mulai menikmati suasana desa yang dulu ia remehkan. Dua minggu yang awalnya membosankan berubah jadi hari-hari penuh warna. Namun waktu terus berjalan. Azis harus kembali ke kota. Di ujung desa, mereka saling menatap dalam diam. Tak ada kata perpisahan, apalagi janji. Hanya perasaan yang tumbuh tanpa pernah terucap. Ini bukan kisah cinta yang selesai bahagia. Tapi tentang perbedaan, tentang waktu yang terlalu singkat, dan tentang cinta yang hadir tanpa pernah benar-benar bisa dimiliki. Apakah perasaan itu akan bertahan? Ataukah akan jadi kenangan yang perlahan memudar bersama waktu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines