Bagaikan cambuk pengingat

Bagaikan cambuk pengingat

  • WpView
    Membaca 237
  • WpVote
    Vote 18
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Sep 8, 2020
seorang gadis yang ingin merubah keluarga nya agar kembali dekat kepada Allah dengan segala kemampuan yang ia punya, dengan ketabahan hati ia tak bosan-bosan untuk berdoa. gadis yang rendah hati, gadis yang Sholehah, gadis yang berbakti kepada kedua orang tua nya, bagaimana perjalanan hidup Aisyah?? apakah ia mampu merubah keluarga nya? Mohon perhatian teman-teman kalo kalian beranggapan cerita religi ngebosenin, kalian salah! Menurut ku. Disini kalian dapet kisah fiksi remaja juga yuk baca kisah bagaikan cambuk pengingat ini:) Note! Kita dikaruniai akal yang dapat digunakan untuk mengarang cerita, maka jangan gunakan mata dan tangan untuk mencontek karangan orang lain. Copas sama aja mencuri hhe
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Cinta Dalam Iman
  • ALSA : Tak Akan Goyah oleh Angin.
  • SEGITIGA CINTA
  • Sayap Surga Nya ( Tamat )
  • SENJA UNTUK ALESHA
  • Diantara Ashar dan Maghrib (Tamat)
  • My Ustadz My Crush [SELESAI]
  • DALAM DIAMKU ADA CINTANYA {END}
  • Assalamu'alaikum, Mas Azzam !
  • Halalkan Atau Tinggalkan

Azha tidak pernah menyangka bahwa langkah pertamanya di pesantren akan mempertemukannya dengan Muaz-santri yang dingin, pendiam, dan selalu terlihat serius dengan hafalannya. Sejak awal, mereka berada di dunia yang berbeda. Muaz sibuk dengan hafalannya, sedangkan Azha berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun, takdir selalu punya cara unik untuk mempertemukan dua orang yang seharusnya berjalan di jalur masing-masing. Tatapan yang tak sengaja, pertemuan di tempat yang tak terduga, hingga percakapan-percakapan kecil yang membuat Azha menyadari bahwa Muaz tidak sekeras yang terlihat. Di antara hafalan dan kesibukan pesantren, Azha mulai memahami bahwa ada jeda di antara mereka-sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jeda itu bisa berupa harapan, doa, atau bahkan perasaan yang perlahan tumbuh namun tak bisa diungkapkan. Tapi ketika waktu mulai memisahkan mereka, Azha dan Muaz harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua perasaan bisa menemukan jalannya sendiri. Apakah keduanya akan tetap berada di jalur masing-masing, ataukah takdir akan membawa mereka kembali bertemu di titik yang sama? Sebuah kisah tentang perasaan yang terpendam, tentang ketulusan dalam diam, dan tentang bagaimana Allah selalu punya rencana terbaik di setiap jeda yang tercipta. 🕐 UPDATE SETIAP SELASA & MINGGU

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan