Friendnivora?

Friendnivora?

  • WpView
    LECTURAS 78
  • WpVote
    Votos 17
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, sep 4, 2020
"Makan temen? Sorry gue bukan friendnivora" ======================================================== Nama gue Auristella Bisa di panggil Stella, tapi bukan Stella pengharum ruangan ya. Gue suka sama kakel gue, udah lama banget njirr. Gue kira cinta gue bertepuk sebelah tangan. Ternyata enggak dong. Akhirnya sekian lama menunggu, akhirnya dia nembak gue, ya jelas gue terima. Ternyata Di saat gue bahagia, ada aja orang yang nyinyir. Dia ngomongin gue di belakang dong. "Makan temen" ============================ Inilah kisah putih abu-abu gue
Todos los derechos reservados
#110
ngakak
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Dream Mine (Selesai)
  • GEVRONZ
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • R A G A V [END]
  • Kue Lapis [✓]
  • LOVE STORY QIANARRA
  • THE CLIMB [Completed]
  • Melody In Ramadan (TERBIT) ✓
  • Three Idiot Girls  ✔

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido