Eayzi [On Going]

Eayzi [On Going]

  • WpView
    Reads 3,993
  • WpVote
    Votes 604
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadComplete Fri, Mar 26, 2021
___________________________________________________ Eayzi Kristalea Regatta. "Teriak saja sekuat mungkin, biarkan seisi dunia tau, sebesar apa rasa benci kalian ke gue." "Tebarkan saja kebencian ke seluruh penjuru dunia, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa." "Terus-terusan kalian menyerangku dengan kebencian, tanpa sedikitpun kalian jelaskan di mana letak kesalahanku." "Kebencian itu sudah melekat di hati kalian. Jadi, sebaik apapun aku berperilaku maka akan tetap buruk di mata kalian." ___________________________________________________ Mau tau kisah suka duka kehidupan seorang Eayzi? Yukk buruan baca✨ Oh iyaa. Author mau minta maaf sebelumnya jika ada beberapa typo dan kesalahan dalam penulisan 🙏 Maaf juga jika ada Nama tokoh atau mungkin alur yang sedikit mirip dengan cerita yang pernah kalian baca itu hanyala sebuah ketidaksengajaan. Semoga kalian suka ceritanya ❤️
All Rights Reserved
#14
kembaridentik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Ice Princess
  • ECCEDENTESIAST (COMPLETED)
  • Aerilyn
  • AIRIS
  • ADIRA (regret)
  • SELF LOVE
  • Story Stela
  • BE MINE!! [Forth Coming]
  • Wasted Princess [On Going]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines