Usia, Mimpi, dan Harapan

Usia, Mimpi, dan Harapan

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 29, 2020
WpInfo
Poetry
Aku tahu aku sedang lelah, menunggu dan keajaiban nggak datang seperti yang aku mau. Kadang aku mensyukuri dan menikmati waktu. Kadang aku mempertanyakan keadaanku yang tak pernah maju. Pikiranku berhenti pada diri sendiri. Bayangan demi bayangan berputar seolah tak akan berhenti. "Apa aku sudah membuang-buang waktu?"
All Rights Reserved
#9
rintik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pergi yang Tak Kembali..
  • Rindu Dalam Diam
  • RUMPANG RAMPUNG
  • Mati Lebih Lama, Hidup Selamanya
  • Letter From Chacha (The End)
  • Cerita Dalam Hidupku✅
  • PHILOPHOBIA (END)
  • Mencintaimu Dalam Diam     (On Going)
  • CERPEN (END)
  • HATI💔 YANG TERPILIH

Cinta Fiena dan Raka bukanlah kisah yang mudah. Lima tahun mereka berjuang, melewati rintangan dan keraguan, hanya untuk akhirnya bersatu dalam ikatan pernikahan yang penuh harapan. Mereka merangkai mimpi, menyusun masa depan, dan saling menggenggam erat, percaya bahwa cinta mereka akan bertahan selamanya. Namun, takdir berkata lain. Di hari ke-82 pernikahan mereka-saat kebahagiaan masih terasa begitu hangat-Raka tiba-tiba pergi. Tanpa tanda, tanpa pamit, tanpa memberi Fiena waktu untuk bersiap menghadapi dunia tanpa dirinya. Dalam hitungan detik, dunianya yang semula berwarna berubah kelam. Fiena tidak hanya kehilangan seorang suami, tetapi juga sahabat, pelindung, dan rumah yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Kesedihan yang begitu dalam mengikatnya dalam pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban-kenapa secepat ini? Kenapa setelah semua perjuangan, Raka justru pergi saat mereka baru memulai hidup bersama? Buku ini adalah perjalanan hati seorang perempuan yang harus menerima kenyataan pahit bahwa cinta sejatinya kini hanya bisa ia genggam dalam kenangan. Bagaimana ia bertahan? Bagaimana ia melanjutkan hidup ketika separuh jiwanya telah pergi? "82 Hari Bersamamu, Selamanya di Hatiku" bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang cinta yang tak mati, meski maut telah memisahkan. Sebuah kisah yang akan mengaduk emosi, membawa pembaca merasakan getirnya kehilangan, sekaligus mengingatkan bahwa cinta sejati tak akan pernah benar-benar pergi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines