Biru Angkasa,
Terjebak dalam kamarnya yang gelap, karena ketakutannya akan cahaya.
Mimpi mimpi aneh juga meneror Biru bertahun tahun. Salah satunya mimpinya dimana seorang gadis kecil memakai gaun merah anggun-Jingga menjadi temannya. Biasa saja memang, tidak sampai mimpi itu terus berputar seperti kaset rusak.
Bersama Azhi William, psikiater Biru. Membantu Biru memecahkan masalah psikisnya.
Dan, sampai semua terkuak..
namun sia sia.
mereka sudah terlambat.
****
Ia terlihat merah,
begitupun disampingnya..
Aku menetes seperti matahari terbit yg jenuh
Diriku yang lainnya tumpah seperti wastafel yg menguap.
Tapi dia biru.
Semuanya biru..
Pilnya, tangannya, dan celana jeans-nya
Berbeda dengan yg kami lihat.
Semuanya abu-abu
Rambutnya, asapnya, dan mimpinya..
Dan, Ia kehilangan warnanya
Dia tidak tahu artinya.
Kamu Merah, dan kamu menyukaiku karna aku Biru..
Tapi kamu menyentuhku, dan tiba-tiba aku menjadi LANGIT UNGU...
Lalu kamu memutuskan,
Ungu bukan untukmu.
Semuanya abu-abu..
Rambutmu, asapmu, dan mimpimu.
Kamu telah kehilangan warnamu..
Sekarang, kamu tahu artinya.
note penulis.
Hi, I'm Lardetha.
Disini aku bawa cerita pertama aku..
jadi, ini cerita terinspirasi banget sama lagu Halsey, judulnya 'colors'
Aku udah buat puisinya, (diatas)
Nah, kalo melihat dari terjemahan lagu Halsey dan Puisi aku memang sekilas sama.
Tapi, kalo kalian tau makna dari puisi aku.. itu beda banget maksudnya dari lagu yg dibuat Halsey.
Cerita ini berisi kisah roman remaja,
juga gaya kehidupan remaja sekarang yang bisa dibilang 'tidak untuk ditiru'.
Wish you like this story
parampampam!!
See you in next chapt!!!
by.Lrdth
Entah siapa yang bisa benar-benar menebak apa yang ada di pikirannya?
Kadang, aku merasa kami sedekat nadi-tak terpisahkan oleh ruang atau waktu. Namun, di lain waktu, rasanya seperti tak pernah ada apa-apa di antara kami. Dia melenggang ke sana kemari, seolah aku tak lebih dari bayang-bayang yang tak terlihat. Tapi anehnya, di saat tertentu, dia menggeliat di sisiku, seperti tak akan bisa bertahan hidup tanpa kehadiranku.
Hingga kini, aku masih tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Keluh kesahnya, tawa kecilnya, dan tingkah manjanya yang dulu terasa akrab kini hilang begitu saja, bagai debu yang diterbangkan angin. Dua belas tahun kebersamaan kami, mengapa rasanya bisa terhapus hanya dalam tiga tahun?
Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa segalanya memang memiliki waktunya masing-masing. Bahwa perubahan ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. "Ini bukan masalah besar," gumamku berkali-kali. Namun, hati kecilku tak pernah benar-benar berhenti bertanya, mengapa?
Hal yang paling membuatku kesal adalah kebiasaannya yang kini berubah menjadi teka-teki. Dia datang kepadaku, tapi hanya ketika dia butuh. Saat lapar menghampirinya, saat kesedihan melingkupinya, atau ketika kebosanan menjeratnya. Dia akan muncul tiba-tiba, menghancurkan keteraturanku, mengacak-acak ketenanganku, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Maksudnya apa?
Aku benci dibuat bingung seperti ini. Aku benci bagaimana dia membuatku merasa diperlukan, hanya untuk kemudian membuatku merasa tak berarti. Namun di balik semua rasa kesalku, aku tak bisa mengingkari satu hal: aku tetap menunggunya.
Dia adalah Saka, sebuah misteri yang tak pernah bisa kuselesaikan.