Restu Waktu

Restu Waktu

  • WpView
    Reads 11,383
  • WpVote
    Votes 195
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 15, 2022
Waktu selalu menjadi dasar atas kehidupan setiap insan di semesta. Perihal mendapatkan atau melepaskan, menautkan atau menguraikan, bahkan menghidupkan atau menghentikan. Seolah takdir selalu bersahabat dengan waktu. Bagi Lovie, masuk ke kampus impiannya adalah salah satu hal tersulit dalam hidupnya. Ia pintar, cerdas, dan konsisten untuk menggapai mimpinya menjadi mahasiswi di fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Namun, tetap saja takdir manis belum berpihak padanya. 'Mungkin belum waktunya.' Kalimat menyebalkan ini selalu engan Lovie dengar. Muak rasanya jika hidup selalu dihantui oleh waktu yang berjalan tanpa dapat dikendalikan. Ruam-ruam dalam hatinya tidak mampu berubah menjadi semu setelah perjuangannya dilanda kegagalan. Namun, Lovie bisa apa? Dia bukan tuhan yang menguasai takdir. Tugasnya sebagai manusia yang berakal hanya bisa tabah meskipun rasa sesak sudah menjera dirinya. Lovie yakin, apapun yang ia inginkan pasti bisa ia genggam. Ya, cita-cita, cinta, dan cerita indahnya. [Cerita fiksi dibungkus dengan kisah yang penuh motivasi ini layak untuk dibaca bagi kalangan apapun]
All Rights Reserved
#524
hukum
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • ALGARA & ALTARA [End]✓
  • SELESAI (Say Goodbye)
  • NADIRAEFAL
  • Strong Girl Michella (END)
  • ALTERIO
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • Rama Prananta (Sudah Terbit)
  • Different Page [Complete]
  • Ketukan Takdir
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines