AKU, HUJAN, DAN KAMU

AKU, HUJAN, DAN KAMU

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 5, 2020
Aku, hujan, dan kamu ..... Rintik mengenai dedaunan. Wangi angpau sampai pada permukaan. Sendu mendominasi rasa yang tak berksudahan. Kelabu menggantung di langit sepenglihatan. Air jatuh bergantian, mengalun ritmis menenangkan. Memeluk ingatan waktu itu, kamu dan aku yang dipertemukan ketika hujan. Ratusan hujan berlalu. Aku sudah tidak bersamamu. Bahagiamu sudah kau temukan, sedang aku masih terkukung kenangan. Aku masih dalam kubangan, mencintaimu tidak membuat ku lelah. Lelah hanya untuk orang yang pamrih agar dicintai kekasihnya. hoho tulisan baru. bukan tentang cerita hanya secuil kisah yang dibuat sajak saja. love~ Arikida
All Rights Reserved
#22
bukancerita
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kita yang tak bisa bersama
  • The Rain
  • Saat Dunia Fana Berskenario
  • Buying Love for Baby (COMPLETE)
  • Naturaloves
  • Pretending
  • Our Destiny [END] |NaruHina
  • Until The End Of Story
  • Haters and Lovers of Rain [END]
  • Hujan Tanpa Senja

Kita yang Tak Bisa Bersama Hujan turun rintik-rintik, menambah kelam suasana malam itu. Bau tanah basah yang biasanya membawa kenyamanan, kini hanya terasa menyesakkan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma hujan yang mengingatkan pada momen-momen indah yang kini hanya tinggal kenangan. Di sebuah taman kota, di bawah lampu temaram, mereka duduk berdua. Malam itu, tak ada lagi tawa yang biasa menggema di antara mereka. Tak ada obrolan ringan yang selalu menyatukan hati mereka. Hanya ada kesunyian yang menggantung, berat, seperti awan gelap yang tak kunjung pergi. "Ada yang ingin aku katakan," suara perempuan itu pecah, hampir tenggelam dalam gemuruh hujan yang semakin deras. Laki-laki itu menoleh. Senyum kecil terukir di wajahnya, namun tak lebih dari sekadar kebiasaan. Ia mengira ini hanya perbincangan biasa, seperti dua tahun terakhir yang mereka habiskan bersama. Dua tahun yang dipenuhi kebahagiaan sederhana-tertawa bersama, saling berbagi mimpi, menciptakan dunia kecil di mana mereka merasa aman dari kenyataan. Namun, malam ini, perempuan itu tidak tersenyum. Tatapannya kosong, bibirnya bergetar, dan tangannya menggenggam ujung rok dengan erat, seolah menahan sesuatu yang sangat berat di dadanya. "Aku akan dilamar besok..." ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam hujan. Dunia laki-laki itu seakan berhenti. Detak jantungnya terasa menghilang, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Laki-laki itu menatapnya lama, mencoba mengukir setiap detail wajahnya di ingatan, perempuan yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, perempuan yang selalu membuatnya merasa tenang, yang selalu membuatnya merasa rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines