Story cover for Breath  by putrihuang01071999
Breath
  • WpView
    Reads 1,213
  • WpVote
    Votes 152
  • WpPart
    Parts 7
  • WpView
    Reads 1,213
  • WpVote
    Votes 152
  • WpPart
    Parts 7
Ongoing, First published Sep 05, 2020
Kita pernah sedekat hembusan nafas yang terpatri penuh rasa bahagia. Sebelum udara putuskan indah warna bahagia menjadi kelabu penuh gilita.Kita pernah tak berjarak dalam bentang langkah yang beriiringan. Sebelum batasan memisahkan kita dalam jeda waktu.

Kini langit pertemukan kita kembali bersama seribu misteri. Jarak sapukan kita meski bukan rasa yang sama. Pertemuan dari masa lalu yang kembali membuka luka lama dan hadirkan rasa hampa.

"Kisah Kenzie dan Kenan sudah berakhir sejak langit memisahkan keluarga bahagia bersama dua anak kembar fraternal."

"Mungkin kata maaf tak mampu sembuhkan luka yang tersimpan rapat di hati, tapi aku berharap aku masih diberikan ijin untuk mengurangi sedikit luka tersebut."
All Rights Reserved
Sign up to add Breath to your library and receive updates
or
#639sick
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 8
KARAFERNELIA  cover
Transmigrated as twins cover
Walk You Home cover
Brother Twinss [TERBIT] cover
|✔| Kisah Senja  cover
Family Line cover
Hurt Without Blood. [COMPLETED]✔ cover
Light Of Happiness [✓] cover

KARAFERNELIA

48 parts Ongoing

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.