THE INVISIBLE DARK SIDE (hiatus)

THE INVISIBLE DARK SIDE (hiatus)

  • WpView
    Reads 69
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 8, 2020
Pernahkah kamu di bully Selama 6 tahun di sekolah tingkat dasarmu hanya karna keadaanmu yang tidak sempurna dan bully itu masih berlanjut hingga kamu dewasa? Dan keluargamu juga merasa jijik padamu. "Kok perasaan aku nggak enak ya,jangan-jangan aku mau dibully lagi nih," batin Rissa yang saat itu tengah duduk dan membaca buku pelajarannya. Merasa haus,Rissa berniat mengambil botol air minum nya di dalam tas. Baru saja memasukan tangannya ke dalam tas,Rissa merasakan tangannya seperti menyentuh sesuatu yang dingin,kenyal,dan bergerak-gerak,dengan refleks Rissa melihat ke dalam tas nya. Selang beberapa detik.... "AAAAAA!!!!!!,,,,,, Dia CLARISSA ANINDYA PRIMROSE adalah seorang gadis yang sangat cantik. Namun dibalik parasnya yang hampir sempurna Ia lahir dengan keadaan yang tidak sempurna. Dibalik ketidaksempurnaan nya Ia tetap menunjukan senyum dan keceriaan yang ada pada dirinya ke orang lain,ya itu adalah topeng yang dipakai Rissa dalam kehidupan sehari-harinya.Namun ternyata,kecacatannya menjadi mimpi buruk yang datang setiap hari dalam hidupnya. Kisah perjalanan hidupnya dimulai dari sini......
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Air Mata Elara
  • Inersia
  • Aldeva
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • As Time Allows
  • Anya
  • I'm okay (END)
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Nayara [ TERBIT ]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines