Customer Sharelove (Sudah Terbit)

Customer Sharelove (Sudah Terbit)

  • WpView
    Reads 9,916
  • WpVote
    Votes 1,091
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadComplete Thu, May 2, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
SEBAGIAN PART CERITA INI DIHAPUS DEMI KEPENTINGAN PENERBITAN. *** Gue pikir, Caka sama saja dengan pelanggan lain yang datang buat protes, marah-marah, lalu pergi. Namun ternyata, dia berbeda. Dia datang, marah-marah, lalu kembali. Kadang-kadang, gue suka ngerasa heran sama pelanggan yang sok berkuasa. Kasir minimarket juga manusia, bukan merek rokok yang 'sempurna'. Masalahnya, setelah pertemuan pertama dengan Caka, gue justru menunda perasaan aneh. Jangan bilang-bilang ya! Sebenarnya, gue jatuh cinta sama Caka. Wajar sebenarnya, soalnya dia menawan. Mirip Oppa-oppa ganteng yang gue tonton di Drama Korea. Beda jauh sama si Daffa, kepala toko gue. Aduh, kalau dibandingkan sama si Ulet Bulu mah jelas kalah jauh. Udah nyebelin, wajah juga nggak ganteng-ganteng amat. Pertemuan pertama dengan Caka di depan meja kasir, berakhir dengan sebuah pengakuan di depan bokap Caka bahwa gue adalah pacarnya. Jelas gue senang. Tapi setelah itu, muncul rahasia-rahasia yang membuat gue harus memutuskan antara maju, atau mundur. Apalagi setelah gue merasa bahwa Caka hanya ilusi. Dia begitu manis, tapi ternyata menikam dari belakang.
All Rights Reserved
#5
hrd
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • My Boss Is Trouble Maker [Belum Revisi]
  • Cinta Salah Kirim
  • Office Hours
  • Dear Mia
  • Pacarku (Sementara) Seorang CEO [END]
  • Ketika Aku Mencari Cinta
  • THE BOSS
  • Menyimpan Rasa (END)

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines